Kamis, 31 Mei 2012

Nyonya Besar


Judul: Nyonya Besar: kumpulan kisah kaum sosialita
Penulis: Threes Emir
Penyunting: Nana Soebianto
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 9 Februari 2012
Hlm: 272
ISBN: 9789792279283

Sinopsis:
Nyonya Besar:
Nyonya Besar adalah nyonya penggemar tas merek tertentu yang harganya selangit, ia kesal sekali melihat begitu banyak wanita yang ikutan menentengnya, padahal tas mereka palsu.

Nyonya Besar adalah istri seorang direktur yang gemar musik klasik dan berdansa ballroom, sementara suaminya penikmat musik dangdut. Setengah mati sang Nyonya Besar ingin mengubah selera musik suaminya, namun tak berhasil.

Nyonya Besar adalah seorang nyonya baik hati yang tidak hanya membiayai sekolah anak-anak sopirnya, bahkan juga mengirim si sopir dan istrinya ke Mekah untuk naik haji.

Nyonya Besar adalah seorang ibu yang dengan indra keenamnya mampu melihat anak gadisnya menjadi ”simpanan” pejabat dan dengan tegas membawa kembali putrinya pulang.

Jangan-jangan salah satu Nyonya Besar dalam buku ini punya kisah yang sama dengan Anda atau orang yang Anda kenal....


Review:

Yang terpikir pertama kali ketika mendengar nama Nyonya Besar pastilah ibu-ibu usia paruh baya yang tinggal di rumah gedongan dengan dandanan lengkap, rambut sanggulan heboh dan perhiasan mentereng macam Nyonya super kaya di sinetron. Begitu juga definisi Nyonya Besar yang dikupas dalam buku ini. Threes Emir mengantarkan 25 kisah Nyonya Besar kaum sosialita, baik Nyonya yang benar-benar berbadan besar, berhati besar, sampai berkepala besar. Pokoknya yang bisa dimasukkan dalam kategori besar deh.

Ada Nyonya Besar yang sudah kaya raya tapi masih mau berbagi kepada tetangganya yang kekurangan. Bahkan kalaupun menyumbang suka berlebih-lebih. Kalau membantu tidak tanggung-tanggung. Bahkan sampai Supirnya mau diberangkatkan naik haji saking baiknya. 

Di cerita lain ada kisah Nyonya Besar bernama Isti yang sepeninggal suaminya membagi-bagikan nasi bungkus setiap tanggal dua dan lima belas kepada gelandangan hingga namanya santer dan bahkan ditawari untuk masuk partai oleh seorang politikus karena berjiwa sosial tinggi dan melakukannya tanpa pamrih.

Tidak semua Nyonya Besar disini adalah Ibu-ibu bersuami kaya. Beberapa memang menjadi Nyonya Besar atas usahanya sendiri. Dan tidak melulu kisahnya tentang Nyonya Besar yang suka berbagi, tapi banyak juga kisah tentang Nyonya Besar yang pelit dan haus publisitas.


Ambil contoh Ranti. Nyonya Besar asal Klaten ini menapak karir dari bawah walau tak tamat sarjana hingga akhirnya bisa naik mobil BMW, tinggal di rumah mewah, berlibur ke Singapura dan mencapai jabatan karir tinggi di perusahaannya ini tidak hanya berpenghasilan besar, tapi juga berbadan besar.

Ada juga Nyonya Besar yang haus publikasi. Hanya mau menyumbang apabila namanya diumumkan. Ia merasa sudah selayaknya orang menghormati dirinya. Malah dia tidak rela jika tidak mendapat imbalan apa-apa. Menurutnya imbalan penyebutan nama itu sudah sangat minimal menurutnya.

Lalu cerita paling keren adalah seorang Nyonya Besar yang berakal banyak. Ketika mengetahui penyelewengan suaminya, ia mengatasi hal tersebut dengan anggun dan sangat bermartabat, yaitu mencoba untuk menghardik simpanan suaminya dengan halus namun tanpa sepengetahuan sang suami: 

"Saya tahu kok, Tante, Shila baru saja pergi. Dia itu pergi sama suami saya, Tante, namanya Sutomo. Tante belum kenal dia, kan? Memang sejak kami menikah, saya nggak pernah ketemu Tante lagi. Begini, Tante... tolong ya Tante beri tahu Shila agar jangan ganggu suami saya." ~p.184

Salutnya buku ini minim typo. Atau malah tidak ada typo sama sekali ya? Yang jelas saya nggak menyadari adanya typo. Cuma kenapa ya Covernya menjerumus begitu, biar dilirik kah? Covernya ini sebenernya bikin saya ngeri mau beli karena takut isinya benar-benar menjerumus, tapi toh ternyata isinya sarat nilai moral. Kasihan yang beli kan, jadi kecele. 

Yang lebih aneh lagi adalah buku ini masuk kategori Metropop lho. Memang masih sesuai dengan definisi genre Metropop itu sendiri, yaitu wanita-wanita 'muda' dengan problematikanya selama tinggal di metropolitan. Tapi seingat saya ini seharusnya jadi kisah non-fiksi walau diramu jadi fiksi. Apalagi jauh dari kata 'muda' hehe.

Walau dari segi cerita saya berani acungkan lima jempol namun dari gaya bercerita bisa dibilang bukan gaya favorit saya. Terlalu mencerminkan bahasa sehari-hari yang menurut saya bagai dua sisi mata uang: cerita bisa mengalir luwes sekali atau... kebalikannya lah. Karena saya sangat menyukai pola baku yang rapi jadi terlalu banyak koma dan kata tidak baku dalam buku ini bikin kurang nyaman. Yah~ masalah selera aja sebenernya. 

Btw, setelah buku Nyonya Besar ini Threes Emir rupanya sudah menambahkan lanjutannya, yaitu: Tuan Besar.




PS: Buku ini hadiah menang kuis #KuisSCDD di twitter @fiksimetropop hostnya mas Ijul empunya blog http://metropop-lover.blogspot.com/
PS2: Di posting dalam rangka Baca Bareng Bulan Mei bersama #BBI dengan tema: Buku terbitan Gramedia

34 komentar:

  1. "Kasihan yang beli kan, jadi kecele. "

    Iya, saya kecele membelinya, huhuhuhu, saya pikir ini novel...;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. iya, soalnya metropop kan identik dg novel ya.

      Hapus
    2. eh? ini metropop? ga biasanya metropop kumcer

      Hapus
    3. Iya ini metropop mba Desty..
      Ho oh, makanya agak aneh kan ya. Jadi bikin kecele :P

      Hapus
  2. kemarin baru beli yg Tuan Besar ^^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu reviewnya ya. Semoga lebih menarik :D

      Hapus
  3. wahhh kayanya keren ya..selama ini gak pernah tertarik karena covernya kok cheap banget..sayang yah. soalnya kita kan masih judging book by its cover hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, betol bgt mba Astrid. Mau kayak gimana juga ttp yg pertama itu liat covernya dulu biar selera baca. Kecuali emang banyak yg ngereview bagus :P

      Hapus
  4. mmm ....belum pernah coba baca metropop, entah kapan bisa kesampaian or sempat hehe.
    Ijin copas link buat di fanpage BBI ya mbak Oky

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa blm pernah mba? Hehe.. iya sante aja mungkin kapan2 sempat baca metropop.

      Makasih ya mba Maria :D

      Hapus
  5. bakal adan Anak Besar nggak yah?

    BalasHapus
  6. Unik juga temanya... judulnya juga hehehe... Nyonya dan Tuan Besar :)

    BalasHapus
  7. Duh covernya ini lho Ky yang nggak banget, yah dari judul dan cover sih sepertinya ingin 'menarik' perhatian pembeli ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin gitu mba soalnya kan non-fiksi biasanya jarang diminati :P

      Hapus
  8. udah ill feel dulain liat book cover-nya, dan keliatannya belum bakal masuk wishlist saya :P makasih banget buat infonya

    BalasHapus
  9. Bayanganku Nyonya Besar adalah ibu-ibu pejabat dengan tas ber-merk, sasak tinggi atau konde gede. Dandanan rada berlebihan dan judes :D

    Jadi pengen baca :) Cover-nya emang bikin males, bayanganku malah kaya' cerita-cerita yang isinya dunia malam begitu (eh emang dunia malam kaya' apa sih? :D)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. iyap itu nyonyah-nyonyah sinetron :))

      LOL, iya mba awalnya aku takut ttg nyonyah besar 'nakal' gr2 covernya tp ternyata enggak :P

      Hapus
  10. Balasan
    1. Iya mba ini kumcer. Udah selesai nih, jadi mau pinjam kah?

      Hapus
    2. huwooo.. ngga dulu deh ky. ketimbun tugas sebelum UAS nih.. -____-

      Hapus
    3. Kekeke~ oke deh mba ;)

      Hapus
  11. keren juga ya metro pop kumcer, mungkin lebih menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya. Yg suka kumcer mungkin bakalan suka buku ini cz substansinya bagus :D

      Hapus
  12. Wahahah covernya aduh menjurus sekali, pdahal ternyata isinya tdk smeua Nyonya BEsar itu negatif ya? lalu hubungannya dengan Juventus apa? #eh salah nyambungin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, juventus? Apa itu hubungannya? =))

      Hapus
    2. Juventus kan juga si Nyonya Besar julukannya ...eh salah ya hehehe

      Hapus
    3. Oh gitu ya. Oalaaa.. gini nih kalo ga paham bola :P

      Hapus
  13. gyahahha kecele. jadi penasaran kalo Tuan Besar bercerita tentang apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama penasaran, ayo siapa ayo yg mau review. Tapi kalo aku disuruh beli, kayaknya ga makasih deh~ hehe.

      Hapus
  14. malah baru tau ada kumcer metropop.
    tapi kemungkinan besar saya nggak baca metropop sii
    *kabur sebelum dilempar*

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...