Kamis, 03 Oktober 2013

My Interview on Haru Syndrome's Waiting Room

Setelah beberapa kali membahas novel terjemahan di Haru Syndrome’s Waiting Room, kali ini kita akan membahas novel lokal, lho. Bersama dengan Oky, kita akan mengupas tentang Paper Romance yang resensinya bisa dibaca di sini http://www.okydanbuku.com/2013/04/paper-romance.html

Kenalan dulu yuk dengan Oky:



Yellow, Oky ini seorang Blogger Buku Indonesia yang sudah mereview di blog selama 7 tahun, sejak tahun 2007. Selain mereview buku, si Oky juga suka ngadain Giveaway buku tiap bulan lho. Blog bukunya bisa dikunjungi di www.okydanbuku.com

Hobinya bawa buku kemana-mana. Ketagihan baca, kalau sehari nggak baca buku bisa bikin sakit kepala. But kinda moody. Jangan heran kalau dalam sebulan cuma ada satu-dua posting, tandanya dia lagi reader-block.

PERTANYAAN HARU UNTUK OKY

1.       Bicara tentang judul dulu yaaa. Menurutmu, pemilihan judul Paper Romance gimana nih?

Judul Paper Romance udah pas untuk merepresentasikan keseluruhan cerita antara Eli dan Kev. Cuma awalnya aku nyangka bakal lebih sendu dan mellow, nggak tahunya malah kocak abis ceritanya, haha.

2.    Kamu banyak membahas tentang karakter di review kamu. Siapa sih karakter yang paling kamu suka dan kenapa? Juga siapa yang paling kamu nggak suka dan kenapa?

Iyap, menurutku kekuatan dari suatu novel itu ya Karakter para tokohnya. Kalau plot, gaya bahasa, alur dsb sudah oke tapi karakter-karakternya membosankan atau kurang kuat, maka novel itu fail. Karakter itu ibarat nyawa dari sebuah cerita. Karakter favoritku sejauh ini Katniss Everdeen dari Hunger Games series – Suzanne Collins karena dia brave, strong, rela berkorban untuk orang-orang yang ia cintai, heroic, dan di satu sisi dia juga insecure and fragile. Karakter yang manusiawi tapi juga punya karakteristik kepahlawanan, hehe I’m a sucker for heroic chara (Review series disini http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2011/08/hunger-games.html).

Aku paling nggak suka dengan karakter Ratih di Bukan Istri Pilihan – Maria A. Sardjono, disini dia perempuan yang luar biasa tapi kok mau-maunya kembali ke suami yang brengsek setelah disakiti sedemikian rupa. Padahal dia bisa saja mendapat lelaki yang lebih baik (Review: disini http://www.okydanbuku.com/2013/01/bukan-istri-pilihan.html).

3.       Kamu bilang novel Lia semakin luwes kan? Nah, definisi novel yang luwes itu gimana sih menurut kamu?

Novel yang luwes itu enak dibaca tata bahasanya meskipun semi baku. Secara alur dan plot juga harus mengalir sehingga bisa bikin kita larut dalam cerita. Menurutku novel-novel Lia yang terbaru makin luwes story tellingnya, terutama di segi humor :D

4.    Selama ini Haru kan menerbitkan buku dengan setting luar negri, apa sisi positif Paper Romance dengan setting Indonesia selain familiaritas dialog dan settingnya?
 Lucu. Humornya lebih ngena karena familiar. Selain itu seru juga karena jarang nemu konsep atau ide cerita serupa diaplikasikan ke novel lokal.
5.    Sebagai pecinta buku, apa Oky juga ikut komunitas pembaca buku tertentu? Baca di blog Oky, Oky kayaknya sering nih kopdar sama para pecinta buku. Ceritain dong asyiknya pengalaman ketemu langsung sama para pecinta buku yang lain.

Aku gabung dengan komunitas pecinta buku BBI (Blogger Buku Indonesia, link: http://blogbukuindonesia.com/) yg saat ini sudah menaungi 170an Blogger Buku. Kami semua sangat akrab dan memiliki rasa kekeluargaan yang kuat karena dilatarbelakangi kesamaan hobi yaitu, cinta baca buku. Selain itu swapping, pinjam meminjam, dan titip beli buku itu juga yang memotivasi kami untuk sering-sering kopdar, haha. Tiap habis kopdar pasti bawa pulang buku-buku inceran entah itu modal pinjam atau titipan beli. Bersama BBI kami saling memotivasi untuk terus rajin membaca dan menyebarkan semangat baca ke semua orang.



Wah, pertanyaan di HaSyWaRo kali ini ditujukan untuk 3 orang sekaligus, nih! Lia Indra Andriana sebagai penulisnya, Bambi Bambang Gunawan sebagai cover desainernya dan Haru. Yuk mulai satu per satu.


  • Aku penasaran dengan bagaimana ide cerita novel Paper Romance bisa muncul? Inspirasinya dari mana/apa/siapa nih? Tolong ceritain dong gimana ide itu bisa berkembang hingga menjadi novel Paper Romance yang sekarang?

Lia: Kalau ngomongin ide Paper Romance, kayaknya banyak banget yang nyumbang sampai akhirnya bisa jadi satu novel utuh. Aku inget waktu itu lagi nonton serial barat berjudul Bones. Salah satu tokohnya (Seeley Booth) tiba-tiba kehilangan ingatan dan ngajak married partnernya (Temperance Brennan alias Bones). Tapi kondisi itu hanya terjadi dalam waktu singkat. Saat nonton adegan itu, langsung pengin bikin kisah itu jadi sebuah cerita panjang. 

Ide itu ngendap cukup lama, baru kemudian saat nonton Grey’s Anatomy, ada satu episode yang menunjukkan seorang pasien seorang novelis yang ngotot banget pengin nyelesaiin tulisannya karena para pembacanya sudah menunggu. Menggabungkan kedua hal itu, aku mulai membuat alur dasar Paper Romance. 

Dalam perkembangannya, dunia make up, teater, dan perfilman ikut kumasukkan. Kebetulan, aku memasukkan ketiganya karena terinspirasi dari seorang teman yang tak lain dan tak bukan adalah cover desainer Paper Romance (Bambi Bambang Gunawan Santoso) yang dunianya memang  sangat dekat dengan ketiga hal tersebut. 

  • Berapa lama sih proses menulis Paper Romance ini? Mulai dari menulis kerangka ide cerita, revisi, hingga proses cetak, dan akhirnya bisa diterbitkan oleh Penerbit Haru?

Lia: Draft awal dibuat awal 2012 dan baru selesai Januari 2013, jadi totalnya satu tahun meski sebenarnya masa efektif nulisnya hanya 4-5 bulan (naskah ini sempat kutinggal selama beberapa bulan hehe). 

Revisi sendiri aku lakukan selama 2 bulan setelah mendapatkan feedback dari beberapa teman juga dari mbak Tia Widiana selaku editor. Bulan Mei, novel ini terbit.

Sambil aku ngedit tulisan, cover pun mulai dikonsep. Jujur, awalnya nggak ada kepikiran kalau cover Paper Romance bakal seperti itu. Waktu itu hanya ingin sebuah cover yang menggunakan teknik pewarnaan cat air. Thanks banget buat Mas Bambi yang udah mau sabar menuruti keinginanku yang suka berubah nggak tentu.
 
  • Aku suka banget sama pemilihan warna cover hijau jeruk nipis untuk novel Paper Romance ini. Trus gambar cewek (it’s supposed to be Eli, right?) yang keluar dari buku itu menurutku cute abis. Kenapa pilih warna itu? Berapa lama proses kreatif pembuatan cover novel ini? Selain itu, pada ujung cover sebelah pojok kanan atas sengaja di potong itu bikin cover lebih unik, tapi maksudnya untuk apa ya, hehe? 

Untuk proses kreatif cover, mari panggil dulu cover desainernya… Mas Bambi Bambang Gunawan Santoso. 

Bambi: Desain awal untuk cover ini justru bukan hijau. Awalnya warna untuk langit adalah warna biru terang, bahkan sempat dibuat warna lembayung senja (keunguan) juga warna sore yang kuning orange. Namun setelah disatukan dengan gambar tumpukan buku, rerumputan dan bunga (gambarnya masing-masing dibuat terpisah dan manual menggunakan cat air; baru di adjust lagi warnanya di photoshop) ternyata justru terasa berat dan kurang cocok. Akhirnya dicari-cari warna yang cocok dan warna hijau limunlah yang terpilih.

Karakter Eli sengaja dibuat tanpa warna; agar pembaca bisa langsung merasakan bahwa karakter ini beda dengan keseluruhan gambar karena dia ‘munculnya’ dari buku. O iya, ada tambahan gambar-gambar insert untuk halaman judul tiap bab dibuat terpisah.

Proses semuanya itu nyaris 4 minggu, mulai dari konsep, sketsa-sketsa alternatif ide s/d finishing siap cetak.

Kalau ujung buku 'krowak/kegigit’ itu ide-nya penulis, silahkan dijelaskan, hehehe....

Lia: Ujung buku yang dipotong sebenarnya mengadaptasi dari salah satu buku Taiwan yang pernah kulihat di toko buku. Saat itu sama sekali belum terpikirkan buku mana yang bakal menjadi korban uji coba. Tapi seiring berjalannya proses pembuatan cover… saat Mas Bambi membuat gambar ada cewek yang keluar dari buku, rasanya ujung buku yang terpotong menjadi cocok. Bisa dibilang, ujung buku yang tidak utuh itu digunakan sebagai lokasi keluar si cewek hehehe.

Dan sebenarnya nih, mendekati deadline naik cetak, masih belum diputuskan apakah ujungnya akan dipotong atau tidak karena masih menunggu konfirmasi dari percetakan. Setelah menunggu dengan tegang, akhirnya salah satu percetakan mengatakan bisa melakukan pemotongan ujungnya. Yay! Ternyata buku yang ujungnya ‘digigit tikus’ ini bisa juga beredar di toko buku.



  • Awalnya saya lihat Penerbit Haru lebih fokus untuk menerbitkan novel terjemahan Korea atau novel lokal dengan latar Korea (Oppa & I, Khokkiri, dll). Kemudian sekarang sudah merambah ke novel terjemahan Jepang. Namun rupanya Penerbit Haru juga menerbitkan buku hasil karya penulis lokal yang nggak bersetting latar Korea, contohnya seperti paper Romance ini. Apa visi misi dari Haru untuk kedepannya sehingga mengambil keputusan tersebut?

Wah, kalau bicara tentang visi dan misi, bakal agak muluk-muluk dikit nih. Nggak apa-apa ya!

Untuk Visi Haru, tentu saja memperkaya anak bangsa. Mungkin banyak yang tanya nih, bagaimana novel kok bisa memperkaya anak bangsa sih? Menurut Haru, bisa saja. Bukan dari segi akademik loh, tapi dari segi moral. Misalnya dari Paper Romance, kita belajar dari Kev untuk tidak memandang rendah orang lain, atau dari Eli untuk tidak selalu pasrah dengan keadaan. Dari Sweet Melody, kita belajar untuk tidak menyia-nyiakan masa muda dan terus berusaha sebaik mungkin. Dari Crying 100 Times kita belajar dari Fujii-kun untuk tetap bertanggung jawab pada pekerjaan dan setia pada pasangan. Indonesia, Korea, Jepang. Semua punya keunikan masing-masing dan punya nilai moral masing-masing.

Untuk misinya, tentu saja Haru ingin menerbitkan novel dari banyak negara, terutama Asia. Doakan ya supaya Haru bisa membawa nilai-nilai positif kepada semua orang melalui novel! Mohon dukungannya!!

Hiyaaah! Malu!!

Biarkan Haru tetap misterus ah. Mengutip Kaito Kid dari detektif Conan, “Biarkanlah Rahasia tetap menjadi sebuah rahasia...”. Lebih seru kan kalau Haru penuh dengan rahasia?

Eh, tapi masa sih Haru misterius? Nggak ada yang tanya sih hehehe.

Jadi, Haru didirikan oleh Lia Indra Andriana. Awalnya Lia mendirikan Haru untuk menerbitkan bukunya sendiri, sehingga di tahun-tahun pertama Haru tidak menerima naskah dari luar. Namun seiring berkembangnya waktu, Haru pun mencari naskah dari penulis-penulis lain, termasuk menerbitkan buku terjemahan. Total personelnya sendiri…. ehm penasaran aja atau penasaran banget, nih? Hehe… saat ini personil tetapnya ada beberapa orang, dan banyak freelance. Oky mau gabung juga *loh, malah nawarin hehehe.



Sekian interview saya bersama Haru Syndrome's Waiting Room. Thanks ya Haru, saya berasa jadi artis sehari nih jadinya *halah. 

Btw, kalau ada kesempatan freelance buat saya, mau dong~ hehe. Kabarin aja ya Haru :3

Untuk teman-teman yang masih belum tahu apa itu Haru Syndrome's Waiting Room bisa mampir kesini (http://penerbit-haru.com/index.php/blog/35-memperkenalkan-haru-syndrome-s-waiting-room). Mau baca interview para blogger buku lainnya bersama HaSyWaRo juga bisa mampir kemari (http://www.penerbit-haru.com/index.php/blog).

3 komentar:

  1. Untuk novel terjemahan korea Haru emang jagonya, jadi pengen baca paper romance..*nyesal kmrn nggak jadi beli..

    BalasHapus
  2. Keren, euy interviewnya. Udah lama pengin baca buku ini, karena penasaran ama tokoh penulis di dalamnya. Jarang buku populer di Indonesia nyeritain kehidupan penulis :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...