Selasa, 17 Februari 2009

All American Girl

Judul: All-American Girl (Pahlawan Amerika)
Pengarang: Meg Cabot
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
ISBN: 979-22-0982-4
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama



Sinopsis (Spoiler!):
Samantha merasa dirinya gadis yang biasa saja. Dia anak tengah dari tiga bersaudari. Kakak perempuannya, Lucy, adalah ketua tim cheerleaders yang sangat cantik dan populer. Sedangkan adiknya, Rebecca adalah gadis dengan kejeniusan setara profesor berumur 40 tahun dan sekolah di tempat khusus anak-anak jenius. Dibandingkan dengan segala kelebihan kedua saudarinya, Sam merasa dia anak paling biasa dan tidak memakan banyak biaya hidup. Lucy, jelas, butuh banyak pengeluaran untuk mempertahankan status populernya. Sedangkan Rebecca, biaya laboratoriumnya saja setara dengan penghasilan kotor negara kecil. Jadi, Sam ingin memberontak. Ia mencelupkan seluruh pakainnya ke dalam cat warna pakaian hitam sebagai bentuk keprihatinannya akan nasib generasinya. Selain penampilan gothicnya, Samantha juga diam-diam naksir, Jack, pacar Lucy. Tapi, diatas itu semua, masalah sebenarnya ada pada les menggambar.

Samantha Madison tertangkap basah menjual gambar-gambar artis yang ia buat di kelas bahasa jerman. Orang tuanya kemudian berpikir bahwa bakat Sam harus disalurkan supaya nilai bahasa jermannya tidak jeblok. Kemudian Sam di daftarkan ke tempat les menggambar milik seniman terkenal, Susan Boone. Sam berpendapat Susan Boone tampak seperti ratu peri pada pertemuan pertama mereka tapi ternyata tidak mirip sama sekali. Pelajaran menggambar pertamanya berlangsung sangat buruk. Well, disana dia ketemu cowok keren bernama David, tapi tetap saja, Sam yang sensitif itu merasa tidak betah. Pasalnya, menurut Susan, Sam menggambar dengan apa yang ia tahu dan bukan apa yang ia lihat. Sam yang tidak mengerti merasa tersinggung karena kreativitasnya di kekang. Akhirnya, menuruti saran dari Jack, pacar Lucy, Sam memberontak dengan cara memboikot dari les menggambar. Jadi, ketika Theresa, pembantu rumah tangga, menurunkan Sam di depan tempat les, Sam tidak segera masuk tapi malah menuju Capitol Cookies, tempat yang menjual kue-kue lezat dan murah dan kemudian bersembunyi di toko musik sampai jam les berakhir.

Di dalam toko musik, Sam bertemu dengan orang aneh, bernama Billy Joel, yang memutar lagu berjudul “Uptown Girl” berkali-kali. Kemudian, saat Sam keluar dari toko musik dan berdiri di depan Capitol Cookies untuk menunggu jemputan, ada konvoi mobil kepresidenan berhenti tepat di depannya. Rupanya Presiden Amerika Serikat suka dengan kue-kue yang dijual di Capitol Cookies. Saat Presiden memasuki toko kue itu, Mr. Uptown Girl, atau Billy Joel, mulai merogoh jas hujannya yang ternyata berisi pistol panjang yang kemudian akan digunakan untuk menembak Presiden saat beliau keluar dari Capitol Cookies. Sam, tanpa pikir panjang, segera menerjang punggung Mr. Uptown Girl dan sialnya Mr. Uptown Girl itu malah jatuh menindihnya, akibatnya, pergelangan tangan Sam retak. Namun, yang paling penting adalah Presiden baik-baik saja.

Keesokan harinya, saat Sam terbangun di kamar rumah sakit, tiba-tiba saja ia kedatangan puluhan bingkisan berupa karangan bunga dan boneka dari orang-orang penting di seluruh dunia karena telah menyelamatkan Presiden. Lalu, banyak orang jadi memujanya dan menyebutnya sebagai pahlawan. Dia punya penggemar dan paparazi mulai membuntutinya kemana-mana. Bahkan, Presiden beserta istri dan anaknya mengundangnya makan malam di Istana negara secara pribadi dan mengangkatnya sebagai Duta Remaja PBB. Yang lebih heboh dari itu semua, anak Mr. Presiden ternyata David yang jadi teman sekelasnya dalam les menggambar. Lebih parah lagi, cewek-cewek populer yang ia benci, terutama Kris Parks, mulai bermanis ria di depannya karena mau numpang beken. Bahkan, sahabatnya, Catherine yang tidak pernah memakai rok di atas lutut mulai berpacaran dan ingin pergi ke pesta anak-anak populer.

Sam diundang ke pesta Kris Parks, Sam tidak mau pergi tapi, Catherine memaksanya ikut karena Paul, pacar baru Catherine, mengira Catherine anak populer, lagipula Catherine penasaran bagaimana rasanya pergi ke pesta anak populer. Sam, dengan terpaksa, mengajak David untuk pergi bersamanya ke pesta itu. Gara-gara Lucy, semua anak mengira Sam berpacaran dengan David dan akan mengajak putra persiden itu ke pesta Kris Parks. Lagipula, Sam juga ingin membuat Jack, pacar Lucy cemburu. Entah bagaimana David menyadari niat Sam yang sesungguhnya dan dengan kecewa berkata, “Kupikir kau berbeda dari cewek-cewek lain.”

Sebagai duta remaja PBB, Sam punya tugas sendiri. Ia akan menjadi juri dari kontes lukisan yang bertemakan “Dari jendelaku” dimana para remaja di seluruh dunia boleh berpartisipasi dan melukis apa yang ada di balik jendela mereka. Sam menyukai lukisan Maria-Sanchez yang sedikit kontroversial tapi sangat realistis, namun Mr. Presiden menentangnya. Sam jadi bingung, hubungannya dengan David maupun Mr. Presiden sama-sama memburuk. Dan hal yang terpikirkan olehnya adalah menggunakan haknya sebagai rakyat yang bebas berpendapat. Ia mengumumkan di TV Nasional bahwa Mr. Presiden tidak setuju untuk memenangkan lukisan Maria-Sanchez sekaligus menyatakan perasaan sukanya pada David.


-okeyzz-

Senin, 12 Januari 2009

ga-gi-gu giGi


Judul : ga-gi-gu giGi
Pengarang : Lia Indra Andriana
Penerbit : Gradien Mediatama
Tahun terbit: 2008
Sinopsis :

FKG (Fakultas Keliling Gang). Pernah dengar istilah itu? Well, yang pertama terlintas dipikiran saya sudah pasti Falkutas Kedokteran Gigi. Tapi di buku ga-gi-gu giGi ini dijelaskan arti lainnya dari FKG (Fakultas Keliling Gang). Mahasiswinya juga mahasiswi FKG (Fakultas Kedokteran Gigi). Lho kok bisa? Bisa saja. Buktinya dalam ga-gi-gu giGi ini dibahas bagaimana mahasiswi yang sedang dalam tahap meraih gelar ‘drg’ menjadi mahasiswi yang suka keliling gang. Sejarahnya juga nggak singkat untuk menuju gelar menjadi Fakultas-Keliling-Gang. FKG yang awalnya memang Falkutas-Kedokteran-Gigi sempat menjadi Fakultas-Kebanyakan-Gadis lantaran dalam statistik mahasiswanya kebanyakan ditemukan makhluk berkelamin cewek, namun bagaimana bisa berubah jadi Fakultas-Keliling-Gang?

Ceritanya, untuk melakukan praktek, mereka harus punya bahan percobaan. Karena yang namanya dokter itu sudah pasti berhubungan dengan makhluk hidup, mereka juga butuh bahan percobaan yang hidup. Manusia. Uwo, untuk mendapatkan pasien mereka harus nyari sendiri. Nah, gimana cara menjaring pasien? Satu-satunya cara ya dengan keliling gang untuk nyari pasien. Itulah asal muasal mereka berubah julukan menjadi mahasiswi Fakultas-Keliling-Gang.

Dunia kedokteran—terutama FKG—sekarang semakin bertambah maju. Mereka tidak saja sanggup membedah mulut, menggergaji rahang, mengebor gigi, sampai nge-bleaching gigi kayak di salon-salon nge-bleaching rambut pelanggan, mereka mulai merambah dunia perdukunan. Sejauh yang saya tahu, saya ke dokter gigi Cuma buat cabut gigi dan masang behel. Tapi sumpah, seumur-umur saya baru tahu kalau kedokteran gigi mengajarkan pada siswa mereka mengenai pengetahuan susuk. Oke, jangan berburuk sangka dulu mengira FKG melakukan hal yang ghaib, kabarnya... sst.. kita bisa tahu orang pake susuk atau enggak lewat gigi mereka. Nggak percaya? Coba deh tanya sama dokter gigi langganan kalian. Wow... nggak nyangka kan kalau kedokteran gigi saat ini sudah menerbangkan sayapnya sejauh itu? ck, ck.

Ga-gi-gu giGi juga mengisahkan bagaimana para mahasiswa seringkali di beri banyak pertanyaan oleh senior PPDGS (dokter yang kuliah untuk mendapatkan gelar spesialis Bedah Mulut) sebelum mereka di perbolehkan mencabut gigi pasien klinik dan seringkali mahasiswa yang lupa—atau nggak tahu—jawabannya akhirnya memberikan jawaban konyol bin gokil dengan tampang serius dan sangat meyakinkan—padahal terang-terangan salah—hanya agar tidak jatuh pamor.

Ah, satu yang paling berkesan di antara kisah-kisah dalam ga-gi-gu giGi ini. Alkisah ada seorang bapak-bapak jadi pasien di klinik FKG ingin menyabut gigi belakangnya. Mulai dari mahasiswa tingkat tiga, kemudian di gantikan PPDGS karena nggak sanggup nyabut, sampai PPDGS nyuruh juniornya yang lain menggantikannya mencabut gigi, sungguh—anehnya—gigi itu tetap betah nangkring di gusi. Ternyata, di dalam gigi bapak itu ada jimatnya!

Kalau mau nyabut gigi, yang kita lakukan biasanya apa? Pergi ke puskesmas atau ke rumah sakit. Yang sudah punya langganan biasanya langsung datang ke tempat praktek dokter. Yang deket klinik FKG, pasti mampir kesana dong. Yang biasanya saya lakukan kalau sakit gigi atau mau nyabut gigi pasti segera ambil SIM lalu tancap gas sendirian ke tempat praktek dokter gigi langganan (kalau zamannya SD, izin keluar sekolah pas jam istirahat trus sambil ngontel sepeda atau naik becak—dengan mengorbankan uang jajan—langsung jalan ke puskesmas deket kecamatan).

Nah, kebayang nggak apa yang dilakukan oleh para dokter/calon dokter ini? Pernah kebayang nggak apa yang ada di pikiran dokter/calon dokter ini saat akan berinteraksi dengan calon pasiennya? Kalau nggak baca ga-gi-gu giGi ini saya pasti nggak akan tahu kalau mahasiswa FKG menganggapnya sebagai MEDAN PERANG. Mereka ini punya strategi untuk para pasiennya. Mulai dari menyiapkan lokasi medan perang mengategorikan siapa lawan siapa kawan siapa sekutu, menentukan kriteria pemenang, mengasah senjata yang digunakan, jadwal kerjasama dengan sekutu, meneliti jadwal tugas musuh, sampai jadwal perang. Semua sudah diatur sesempurna mungkin. Gila!

Mau tahu lebih lanjut?

Ga-gi-gu giGi merupakan karya non-fiksi pertama dari mbak Lia. Mbak Lia sebagai mahasiswi FKG dengan sangat berani telah membeberkan fakta. Fakta dibalik perdukunan gigi. Semua kisah-kisah mbak Lia sebagai mahasiswi FKG (bersama kawan-kawan) di rangkum dan diceritakan dengan gaya bahasa yang lucu nan gokil. Mbak Lia nggak ragu untuk menulis dengan bahasa gaul, penuh istilah anak muda dan tidak terpaku pada EYD seperti cerpennya yang biasa. Justru di sinilah kelebihannya. Pembaca bisa mudah terbawa suasana gokilnya mbak Lia dan dapat membayangkan bagaimana lucunya saat kejadian itu benar-benar terjadi. Dijamin nggak akan bosen deh bacanya. Gaya bahasa mbak Lia ngalir dan bikin nggak inget waktu.

Ga-gi-gu giGi ini juga makin meriah dengan tambahan ilustrasi pada tiap babnya. Yang paling menonjol dan jadi favorit saya adalah ilustrasi pada bab dua yang berjudul GIMME YOUR S**T, PLEASE! Simple sih. Cuma gambar pintu yang dilabelin papan TOILET. Namun tulisan-tulisan yang di taruh di sekeliling gambar itu yang bikin saya suka. Terutama tulisan yang di tulis—seolah—diatas kertas tepat di bawah label papan TOILET tadi. Tulisannya bikin ngakak—atau minimal nyengir dah bagi yang nggak punya selera humor—karena isinya.. umm.. tulisannya: YANG MAU MENGELUARKAN E’EK HARAP TINGGALKAN PESAN, PELASEE... THX. Ugh, yang belum baca jalan ceritanya pasti nggak ngerti dimana lucunya.

Selain ilustrasi-ilustrasi lucu itu, setiap babnya pasti disisipkan juga humor gigi:


TRIK NGUSIR PASIEN
Dokter: Bisa tolong saya, Pak? Saya ingin Anda berteriak ketakutan sehisteris mungkin.
Pasien: Lho, kenapa? Saya kan baik-baik saja.
Dokter: Begini Pak, diruang tunggu masih ada 10 orang pasien, sementara saya tidak mau ketinggalan menonton siaran langsung Piala Eropa sepuluh menit lagi
—credit to ga-gi-gu giGi


Patut diacungi jempol karya mbak Lia yang satu ini karena keberaniannya mengungkapkan fakta dibalik FKG yang—percaya nggak percaya—super gokil. Ada satu-dua kisah pernah saya baca di blog mbak Lia, namun, yang saya kagumi adalah mbak Lia tidak jaim baik dalam cara menceritakannya maupun kisahnya sendiri. Dan dengan caranya sendiri, hal-hal yang tampak biasa bisa jadi lucu di ga-gi-gu giGi. Sukses terus buat mbak Lia ;)

-okeyzz-

Jumat, 12 Desember 2008

Winter in Tokyo

Judul : Winter in Tokyo
Pengarang : Ilana Tan
Penerbit : GPU
Tahun: 2008
Jumlah Hlm: 313
ISBN: 9789792239836

Sinopsis

Ishida Keiko, blasteran Indonesia-Jepang yang tinggal di sebuah apartemen kecil dua lantai di pinggiran Tokyo mendadak kedatangan tetangga baru. Nishimura Kazuto, nama tetangga baru itu. Dia kembali ke Tokyo setelah 10 tahun lamanya tinggal di Amerika dan tidak pernah pulang ke Jepang. Alasan kepulangannya satu, untuk melupakan Yuri—sahabat, tetangga, dan wanita yang dicintainya—yang akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Perlahan, Keiko mulai akrab dengan Kazuto. Apartemen mereka yang berhadapan, semakin mempererat hubungan keduanya.

Keduanya tidak sadar ketika cinta perlahan menelusup di hati. Keiko yang masih terbayang akan cinta pertamanya, Kitano Akira, mencoba memungkiri perasaannya. Apalagi setelah ia pada akhirnya bertemu dengan Kitano Akira yang sesungguhnya. Seolah melupakan Kazuto, Keiko terbuai dalam angannya sendiri. Kazuto di pihak lain, lebih ekspresif, mengingat pekerjaannya sebagai street photografer, ia lebih cepat menyadari perasaannya terhadap Keiko. Fokus kameranya selalu membidik sosok Keiko. Mengejar sosok Keiko, dan frustasi karena Keiko tidak pernah bisa melihatnya. Semua berjalan begitu salah.

Kemudian, Kazuto kehilangan ingatan. Meninggalkan lubang besar dalam dadanya. Ia masih bisa mengingat hingga hari sebelum kepulangannya ke Tokyo—saat ia masih di Amerika. Celakanya ia melupakan bagian terbaik kenangannya selama sebulan di Tokyo. Saat itulah Keiko menyadari bagaimana perasaannya terhadap Kazuto. Ia merasa begitu kehilangan. Dan sangat sakit hati ketika Yuri datang ke Jepang. Namun perasaan tidak bisa bohong. Kendati lupa akan kenangannya bersama Keiko, Kazuto tetap jatuh ke dalam perangkap cinta yang sama. Ia sekali lagi jatuh cinta pada Keiko. Namun, Kazuto tidak bisa berkutik ketika hubungan Keiko dengan Kitano Akira semakin intim. Semua terasa begitu salah. Bagaimana takdir bisa mempermainkan keduanya sedemikian rupa?

Review

Hai. Saya kembali dengan karya Ilana Tan. Pernah denger Summer in Seoul? Autumn in Paris? Yup, itu karangan Ilana Tan. Kali ini Ilana Tan kembali mengeluarkan bukunya yang berjudul Winter in Tokyo. Hampir lengkap lho. Kita hitung aja, sudah ada tiga buku bertemakan masing-masing musim. Winter, Autumn, Summer. and next on, saya yakin judulnya bakalan Spring in Somewhere. Hohoho... Nggak perlu orang jenius untuk nebak, ya kan? 

Sebelumnya saya sudah pernah mengulas sedikit mengenai Summer in Seoul (klik untuk membaca reviewnya). Buku pertama atau keduanya mbak Ilana ya? Yah, pokoknya saya melewatkan Autumn in Paris karena belum sempet aja. Dan ketika saya menemukan ada Winter in Tokyo nganggur di rentalan, langsung saya ambil deh. Berikutnya, ketika saya membaca, saya agak sedikit menyesal karena tokoh dalam novel ini masih memiliki sedikit korelasi dengan buku sebelumnya (Autumn in Paris, red). Tapi semoga tidak begitu banyak karena saya akan merasa sangat bersalah telah melompati urutan.

Dalam Winter in Tokyo, ceritanya bersetting di Tokyo. Sama seperti Summer in Seoul, tokoh wanitanya dibuat sebagai seorang gadis blasteran Indonesia (mungkin hal yang juga sama terjadi dalam Autumn in Paris). Winter in Tokyo menggunakan sudut pandang pengarang sebagai orang ketiga seperti novel Summer in Seoul. Setiap karakter memiliki pemikirannya sendiri. Istilahnya, apa yah. Saya sendiri kurang tahu mengenai istilah seperti ini. 

Masing-masing tokoh diberi kesempatan untuk mengekspresikan pikirannya namun Ilana Tan tetap menggunakan sudut pandang pengarang sebagai orang ketiga. Gaya bahasa Ilana Tan dalam Winter in Tokyo ini mirip novel terjemahan. Kata-kata baku dan kalimat khas novel terjemahan. Tidak memiliki ciri khas seperti Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelanginya atau ciri khas penulis-penulis teenlit yang menggunakan bahasa sehari-hari. Tapi, alurnya enak diikuti. Ide ceritanya menarik. Setting yang lain dari novel produk negeri kebanyakan. Dan saya sekali lagi jatuh cinta pada karya Ilana Tan. Dan lebih dari itu semua, saya sangat suka dengan penuturan kisah menggunakan kalimat baku yang terstruktur. Entah kenapa, walau saya juga menikmati teenlit, saya agak kurang sreg dengan gaya bahasa tanpa EYD itu. Poin plus buat Ilana Tan dari saya.

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, penokohan Ilana Tan dalam Winter in Tokyo kali ini, walau pun lebih baik dari penokohan dalam Summer in Seoul, saya rasa masih kurang kuat. Karakter seorang Keiko yang memiliki imajinasi berlebihan hingga menimbulkan kecemasan cukup kuat, namun lainnya itu saya merasa semua tokoh serupa tapi tak sama. Cuma samar. Tidak ada yang membekas di hati. Profil Kazuto—dari segi fisik—juga tidak jelas, berapa tingginya, warna kulitnya, ciri khas fisiknya (apakah bercodet, memiliki lesung pipi, tampan, bermata coklat, dsb) tidak di deskripsikan Ilana Tan dengan baik. Begitu juga dengan penggambaran dari sisi fisik tokoh lainnya. Memang Ilana Tan memberi gambaran mengenai warna rambut, mata lebar, dan sebagainya, tapi saya merasa masih ngambang (maksudnya kurang kuat dan tidak berkesan). Jadi saya hanya melihat cetak samar abu-abu pada gambaran tokoh lain selain Keiko. Hanya sekedar serentetan nama dan sosok kabur saja.

Ide cerita Ilana Tan selalu menarik. Hanya saja kurang di gali lebih dalam. Pernah tidak membaca novel yang saking dalamnya penulis menceritakan alurnya dengan kata-kata yang tepat, hati kita meringis bagai di peras dan ingin menangis? Well, saya pernah. Tidak perlu saya sebutkan judulnya apa saja. yang pasti, ketika saya baca, saya langsung tenggelam dan dapat menyelemai karakter tokoh. Bagaimana perasaan saya teriris, hancur, terenyuh pada saat yang bersamaan saat membacanya. Hingga butiran air mata merembes dan jatuh dari pelupuk. Padahal dari segi cerita biasa saja, katakanlah umum. Tapi pengarang mampu mendeskripsikannya sedemikian rupa hingga mampu membawa pembaca menyelami perasaan tokoh itu. Saya rasa, pengarang yang bisa melakukan itu (menghanyutkan perasaan pembaca, red) sudah pasti pengarang yang hebat sekali. Semoga Ilana Tan bisa lebih baik lagi dan mampu membuat saya terhanyut dalam novel berikutnya. Karena saya sangat suka dengan karangan Ilana Tan. :D

Winter in Tokyo ini saya beri tiga bintang dari lima bintang. Untuk pembaca yang lain, jika ingin mengetahui apakah Mbak Ilana Tan mampu membawa Anda menyelam ke dalam tokohnya, silakan baca sendiri bukunya. Hehehe..

-okeyzz-

Senin, 03 November 2008

Chicklit: Hissy Fit


Judul Buku : Hissy Fit - Ngambek Berat
Pengarang : Mary Kay Andrews
Kategori : Non-Fiction
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Keeley Murdock Desainer Interior profesional di Madison Georgia memergoki calon suaminya A.J. Jernigan sedang bercinta dengan sahabat baiknya, Paige Plummer, pendamping mempelai wanita. Keeley langsung mengamuk, siapapun akan mengamuk jika melihat calon suamimu bercinta dengan pendamping mempelai wanita yg juga menjadi sahabatmu di malam pengantinmu. Tapi, ini Keeley Rae Murdock yang logis, seorang wanita terhormat, sopan berkarier sukses dan dihormati masyarakat, mengamuk dengan hebat. Ia membuat ballroom di Country Club seperti terkena terjangan badai. Setelah berhasil menerobos keluar, ia masih sempat menulisi mobil A.J. Jernigan dengan cat warna merah.

Will Mahoney dengan Cadillac kuning vintagenya mengantar Keeley pulang setelah kejadian di ballroom itu. Siapa yg tahu kalau pria itu membawa masalah yg lebih besar. Keesokan harinya, Keeley mendapati masalah semakin buruk. Keluarga Jernigan masyarakat terpandang di kota Madison menyabotase semua klien Keeley, mengeluarkan ayahnya dari Oconee Hills Country Club dan keadaan akan menjadi lebih buruk lagi jika saja ia tidak menerima tawaran proyek besar dari Will untuk merenovasi Mulberry Hill salah satu dari rumah tua peninggalan sejarah di Madison. Dengan tenggat waktu yg tak masuk akal namun diimbangi dengan anggaran tak terbatas. Will ingin Keeley membangun rumah itumenjadi Taj Mahoney untuk dihadiahkan pada seorang wanita yg bahkan tidak dikenalnya atau ditemuinya.

Keeley menyelidiki wanita mana yg dimaksud Will, karena proyek itu di kerjakan untuk dipersembahkan kepada yg bernama Stephanie seorang pengacara terkenal yg terobsesi dengan fashion dan merek. Dan hampir membuat Keeley gila setengah mati karena ikut campur dalam renovasi Mulberry Hill. Dengan mudahnya Stephanie membuat Will menyetujui segala furniture yg telah susah payah dipilih dan dipesan Keeley. Dan itu terjadi berulang kali.

Bersama dengan Austin LeFleur, tetangganya yg gay, Keeley disibukkan dengan penyelidikan menghilangnya Jeanin Murdock, ibunya selama 25 tahun lebih. Jeanin Murdock menghilang tanpa jejak dan diduga kuat kabur bersama Darvis Kane, selingkuhannya yg bekerja di perusahaan ayahnya. Semua upaya penyelidikan yg telah dilakukan kepolisian dan detektif menemui jalan buntu. Namun, Keeley dan Austin mampu menyelesaikannya dengan baik. Meskipun itu berarti mengungkap semua rahasia perselingkuhan yg melibatkan Drew Jernigan, ayah A.J. Jernigan, Vince Bascomb mantan orang kaya di Madison yg sekarat, Sonya Wrick sepupu ibunya, dan Lorna Plummer ibu Paige Plummer.

Beda dengan chicklit lain yg pernah aku baca sebelumnya, karena Mary Kay Andrews berhasil meramu cerita romance dengan thriller dengan baik. Membuat aku jadi penasaran terus ingin membaca hingga akhir cerita. Ending untuk bagian romance memang gampang ditebak. Namun ending mengenai kasus orang hilanglah bagian terbaik dari novel ini.

Hissy Fit banyak menceritakan tentang bagian kehidupan Keeley sebagai desainer interior yg suka hunting barang2 bagus dipelelangan, bagaimana royalnya Keeley menghamburkan puluhan dollar membeli barang yg cocok untuk Mulberry Hills, hal itu dipermudah Will yg mengucurkan dana tanpa batas demi terciptanya Taj Mahoney, untuk Stephanie. Lihat betapa manisnya seorang pria menghamburkan uang demi wanita yg dicintainya. Dalam kasus ini, Will jatuh cinta pada pandangan pertama pada Stephanie saat menonton Stephanie ada di program acara dana di televisi suatu malam, dan BAM!! Ia membangun rumah untuk wanita itu tanpa mengenalnya, maupun bertemu. Yah, begitu melihat betapa kayanya Will, Stephanie langsung jatuh cinta itu sudah tidak aneh lagi mengingat Stephanie begitu menyukai kemewahan dan barang bermerek.

Lalu mengenai perselingkuhan yang tejadi di kota Madison, oleh sekelompok warga terhormat. Kasus menghilangnya Jeanin Murdock membuka mata Keeley. Dimana ada harga atas semua perbuatanmu. Lihatlah Vince Bascomb yg dulunya pria kaya raya dan bugar menjadi sekarat tak berdaya dan diambang kebangkrutan percaya hal itu merupakan karma atas semua kelakuannya dimasa muda. Betapa brengseknya Drew Jernigan yg ia kira lucu dan bersahabat pada mulanya, GiGi Jernigan istrinya yg selalu menutup mata tentang kelakaun suaminya. Sonya Wrick yg bertobat di jalan kristen setelah 25 tahun tak berjumpa. Dan betapa kotornya Paige sahabatnya serta Lorna Plummer yg sudah ia anggap ibunya sendiri.

Walau tebalnya 600 halaman lebih sempat bikin aku males, tapi aku langsung berubah pikiran begitu membaca bab pertama, menjadi ingin terus dan terus membaca sampai habis. Bener-bener bikin aku terhanyut.Rasanya novel ini agak terlalu berat diangkat dibanding chicklit yg biasanya di produksi, cukup aneh bagiku mengingat chicklit ditujukan bagi wanita lajang kosmopolitan yg disajikan dengan gaya bercerita santai, penuh humor konyol, sekaligus cerdas. Tapi, kisah ini diusung bagi wanita yg mau jujur pada dirinya sendiri, wanita cerdasdan modern mengenai karier dan kehidupan sehari2. Well, setelah aku pikir ulang, boleh juga pilihan gramed :P

-okeyzz-

Swanderella


Judul Buku : Swanderella - Metamorfosa si Cantik Buruk Rupa
Pengarang : Christina Tirta
Penerbit : Gradien Mediatama


Ivory berambut ikal dan berkulit gelap ia memiliki exotic beauties. Tapi sejak kecil ia terbiasa di ejek oleh kedua saudaranya. Hitam gosong, rambut kribo apapun julukannya. Ia begitu pemalu dan mendendam. Ia dendam pada Ruby, kakaknya, satu-satunya orang yg bisa disalahkan.Claudia dan cahtting dengannya. Secara perlahan, Ivory menjadi orang kepercayaan Claudia sebagai tempat curhat. Ivory berniat menjadi seperti Claudia Anastasia, model terkenal. Dan juga tetangga depan rumahnya, meskipun mereka sama sekali tidak dekat. Ivory berhasil mendapatkan ID Claudia dan cahtting dengannya. Secara perlahan, Ivory menjadi orang kepercayaan Claudia sebagai tempat curhat. Ivory tahu, Ruby sangat mengagumi Claudia karena itu ia ingin sekali menjadi seperti Claudia. Bahkan ia menggunakan nama Claudia Anastasia. Nama yang sama dengan nama si seleb untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan milik kakek Greg menanamkan sahamnya. Hanya untuk mendapatkan kehidupan Claudia yg ia idam-idamkan. Untuk mendapatkan Greg. Semua itu ia lakukan untuk membalas dendam pada Ruby. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu. Ia lebih hebat dari Ruby yg cantik itu. Ia meluruskan rambutnya, berpenampilan cantik dan menjadi model untuk perusahaannya sendiri. Seringkali ia bertengakar dengan Ruby, ia menolak kehadiran Ruby. Ruby menjadi individualis sejati, begitu rendah diri karena penampilannya yg berbeda. Andai ia tahu...
Balas dendam tak senikmat yg dibayangkan. Ivory seringkali di jebak dalam menjalankan tugas penting. Seperti hilangnya CD rekaman fashion show, hilangnya data rapat negoisasi dengan para supllier, dst. Siapa gerangan yg menjebak Ivory. Ivory tak habis pikir.

Novel ini bikin aku berpikir bahwa trauma psikologis saat kecil benar2 berpengaruh besar dalam pembentukan pribadi seseorang. Ejekan tentang dirinya jelek dan tidak cantik begitu membekas pada Ivory hingga ia menutup mata pada definisi cantik yang sesungguhnya. Bahwa ia cantik apa adanya, bahwa sebenarnya Ruby sayang padanya dan merasa sangat bersalah atas perlakuannya saat mereka kecil dulu.

Dan betapa kecemburuan itu berujung pada dendam dan pembalasan dendam. Balas dendam tak pernah indah karena ia selalu menyakiti banyak pihak yg tak bersalah.

Sekali lagi Christina Tirta bikin aku terbius dengan novel terbarunya. Cerita karangannya benar2 ngena. Dipenuhi konflik dan intrik. Aku suka gaya bahasanya. Novel Christina yg pernah aku baca selain ini adalah Beauty & The Bitch yang ngga kalah bagusnya.

-okeyzz-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...