Rabu, 10 Juli 2013

I'm Officially on Hiatus.

Saya sedang KKN di Pulau Lombok nih.. dan karena keterbatasan sumber (internet, waktu, dan buku) jadi saya mau hiatus ngeblog buku. Jadi, buat yang nunggu update review maupun update Monthly Giveaway, mohon maaf banget yaa~ tunggu sampai saya kembali ke Pulau Jawa, hehe.. 

Biarpun saya bakal hiatus ngeblog, bukan berarti saya hiatus baca buku. Beruntungnya saya 'dipaksa' bawa 1 buku oleh seorang teman. Dan buku itu pun bisa diselipin di sela-sela koper yang udah sesak. Mau tahu buku apa itu?



by James Redfield


Selama seminggu disini, saya  baru sampai halaman 29. Memang lambat, tapi saya menikmati sekali baca buku ini pelan-pelan. Mau tahu kenapa? Soalnya saya mood bacanya cuma kalau sambil lihat pemandangan lautan kayak ini nih.. #pamer

Teluk tepat di belakang Pondokan KKN saya

 Kalau lagi liat sunrise, 
teluk belakang pondokan jadi begini


Indah banget kan..  Hehe. Jadi beberapa hari dalam sekali, kalau ada waktu saya pasti duduk di Beruga (Pendopo atau Saung dalam bahasa lokal) sambil lihat laut. Terus saya baca buku dan menikmati angin sepoi-sepoi. Nggak berlangsung lama sih, paling cuma maksimal setengah jam terus diajak main sama anak-anak kecil setempat, makanya bacanya lambat. But I'm determined to finish it in 2 months XD


 We watch sunset on the way to Gua Biawak
on foot


When we play at Gili Kondo

a little peek from the fun at Gili Kondo
maaf, jadi fashion terrorist nggak terhindarkan
karena bawa bajunya sedikit, hehe. 


Haha, jangan tertipu ya.. ini kami main di sela-sela waktu libur yang ada. Sisanya sih banyak kerja. We work hard then we play hard! See you in two months! XD

Selasa, 25 Juni 2013

After D-100

Judul: After D-100
Penulis: Park Mi Youn
Penerjemah: Putu Pramania Adnyana
Penyunting: O Lydia Panduwinata
Penerbit: Penerbit Haru
Hlm: 382
Tahun: Juni 2013
ISBN: 9786037742
Harga: IDR 63000
Rated: 3,5/5
Sinopsis:
After D-100:   
WANITA:
Aku mencintai laki laki itu dan menikahinya.
Akan tetapi setelah hari itu,
Aku memutuskan untuk bercerai dengannya

PRIA
Sampai sebelum hari itu,
Aku tidak mencintai istriku.
Akan tetapi setelah hari itu,
Aku mulai mencintai istriku

Wanita yang jatuh cinta dan lelaki yang tidak jatuh cinta. Akan tetapi setelah hari itu, perasaan keduanya berubah drastis.

D-100,Apa yang terjadi kepada keduanya setelah hari itu?

Selama ini Kang Gyung Hee merasa suaminya telah menjadi suatu misteri yang tidak pernah bisa ia ungkap. Ia cinta setengah mati dengan Lee Jung Chul dan menyerahkan seluruhnya untuk pria yang menjadi suaminya itu. Tapi ketika misterinya terungkap, Kang Gyung Hee tak bisa memaafkan kenyataan ini, maka setelah hari itu ia berniat menceraikan Lee Jung Chul.

Awalnya saya masih tidak memahami arti 'After D-100' yang menjadi judul novel ini. Sempat terpikir, mungkin maksudnya 100 hari setelah pernikahan mereka. Tapi sepertinya bukan karena Kang Gyung Hee tetap mencintai Lee Jung Chul setelah 2 tahun pernikahan mereka. Rupanya, kunci berada pada judul bab yang menyatakan hitungan mundur mulai dari 100 sejak terkuaknya misteri itu. Jadi, tepat 100 hari setelah 'hari itu' Kang Gyung Hee menceraikan Lee Jung Chul secara resmi.

Tema yang diangkat adalah tentang kemandulan dan bagaimana pasangan ini melewatinya bersama-sama. Saya rasa keduanya sama-sama sedih dan tersakiti akibat pengalaman ini. Lalu diperburuk dengan tekanan dari pihak keluarga, tekanan psikologis, dan kurangnya kepercayaan antar pasangan. 

Pada plot awal, cerita masih memakai sudut pandang Kang Gyung Hee sebagai seorang istri muda yang belum tahu dunia luar. Seumur hidupnya ia tidak pernah hidup susah, disayang dan dilindungi keluarga sebelum akhirnya menikah di usia sangat muda. Maka dari itu tidak heran apabila ia mendedikasikan sepenuh jiwanya pada suami. She gives a lot but she got nothing back from him. 

Penulis dengan pandai membangun suasana, memperkuat karakter Kang Gyung Hee sebagai korban dan menampilkan sosok Lee Jung Chul melalui kacamata seorang istri yang merasa sakit hati dan terkhianati, otomatis membuat saya jadi simpati terhadap sang istri dan ikut membenci suaminya. Karena Lee Jung Chul digambarkan sebagai sosok yang dingin, tidak pedulian, brengsek dan tidak pernah mencintai istrinya.

Namun, kemudian Park Mi Youn dengan halus membuka selembar demi selembar cuplikan masa lalu pasangan ini, kenangan-kenangan mereka, memori-memori jujur yang pernah mereka lewati. Penulis memberi kesempatan bagi pembaca untuk menyelemai karakter Lee Jung Chul melalui blog pribadinya. Baru deh dari situ saya bisa memahami tokoh dan mengapa tokoh itu memutuskan untuk mengambil pilihan itu. Saya akhirnya paham bahwa dibalik setiap tindakan pasti ada alasan yang menjadi triggernya. Apa yang tersurat belum tentu tersirat.. 

Saya rasa, semua pasangan butuh kepastian. Karena Lee Jung Chul yang misterius selalu menutup diri, tidak mengherankan bila Kang gyung Hee langsung minta bercerai ketika masalah muncul. Soalnya sudah tidak ada trust dalam hubungan mereka. Selain itu butuh waktu lama untuk saling memaafkan atau pun untuk move on dari pengalaman pahit itu. 

Park Mi Youn memainkan alur maju mundur dengan sangat baik. Selain itu plot yang dibuat pun rapi dan pacenya tertata dengan baik. Sepanjang perjalanan cerita, melalui kacamata Kang Gyung Hee, saya dibuat kesal, lalu benci, diajak memahami, kemudian jadi memaafkan Lee Jung Chul. Semua itu karena Lee Jung Chul sebenarnya...

Aku mencintai istriku. Alasanku merindukan senyuman istriku adalah karena aku mencintainya. Aku takut ia meninggalkanku karena aku mencintainya. Aku bisa melepaskan istriku yang merasa menderita dan ingin meninggalkanku pun karena aku mencintainya. ~ p. 131

Ini adalah buku pertama dan mungkin akan jadi satu-satunya buku yang saya baca dalam bulan Juni. Jadi saya agak larut terbawa suasananya. Sebenarnya saya masih agak skeptis dengan buku terjemahan korea karena biasanya saya kecewa dengan gaya bahasanya. Namun di buku ini penerjemahannya sudah jauh lebih halus dan lebih rapi, selain itu mungkin saya pun sudah terbiasa dengan gaya bahasanya jadi saya pun nyaman-nyaman aja membacanya. 


Satu saja kritik saya.. untuk siapapun yang ingin membaca After D-100 ini WARNING!! 17++ ya, seharusnya penerbit mencantumkan label "Novel Dewasa" karena menerjemahkan tanpa sensor. Banyak adegan-adegan yang digambarkan secara eksplisit. Saya ngerti sih kenapa nggak di sensor karena dalam adegan tersebut ada dialog yang membangun suasana dan jadi plot penting dalam cerita. Maka dari itu sudah sewajarnya apabila penerbit memberikan label DEWASA agar tidak salah sasaran.

Walaupun temanya lumayan berat, saat bacanya pun saya sedih tapi saya menikmati sekali membaca buku ini. Apalagi di saat-saat hectic seperti ini, After D-100 menjadi satu-satunya buku yang 'menyegarkan' diantara segunung rutinitas jadwal padat.. It was a pleasant read. Kalau suka drama romance, terutama untuk target pembaca romance dewasa, nggak ada salahnya kamu baca buku ini :D


PS: I love the cover, it's cute. Dan saya suka deskripsi di cover belakang, bikin penasaran..  thanks Penerbit Haru ^^

Selasa, 28 Mei 2013

Rapid Fire Question

Setelah sebulanan hiatus ngeblog dan hiatus dari SocMed saya agak-agak shock dapat banyak banget tempelan Rapid Fire Question dari teman-teman... *tarik napas dalam*

Walaupun mba Winda, selaku penggagas Rapid Fire Question, cuma nyuruh jawab pertanyaan dari penempel pertama saja tapi sebagai rasa terima kasih dan rasa bersalah karena nggak segera menunaikan tugas, jadinya ini saya jawab ajah semuanya yaa. Saya ikhlas.. huhu~

Here we go, default question from Winda Scorfi

1. nambah atau ngurangin timbunan?
ngurangin dong~ *guilty*

2. pinjam atau beli buku?
beli

3. baca buku atau nonton film?
baca buku

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
nggak ada yang bisa ngalahin nikmatnya beli buku langsung di toko buku 

5. (penting) buku bajakan atau ori?
pastinya ori dong..
6. gratisan atau diskonan?
gratis, hehe.
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
menanti dengan sabar

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
terjemahan
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
biasa aja

10. bookmark atau bungkus chiki?
bookmark


fire question from Desty @ Desty Baca Buku

11. Habis beli buku, langsung baca atau timbun dulu?
Timbun dulu, hehe~ tergantung mood
12. Romance atau mystery?
Romance
13. Novel fantasy lokal atau terjemahan?
Fantasy terjemahan, yang lokal masih belum dapat feelnya, hanya penulis tertentu saja yang bagus
14. Beli baju baru atau preorder buku baru?
Beli buku baru laaah~
15. Katniss (HG) or Tally (Uglies)?
Argh, susaaaah~ I think.. I like Katniss more than Tally

fire question from Phie @ Resensi Harlequin


16. Baca sampai selesai atau paralel?
Sampe selesai, saya nggak tahan rasa penasaran

17. Buku baru atau buku second?
 Baru dong..

18. Rak buku atau dus?
Haha, pertanyaan ini, err.. Walau biasanya aku masukin dus tetep Pilih Rak buku lah~

19. Kindle atau iPad?
iPad deh.. lebih punya banyak fungsi

20. Cliffhanger atau ending yang jelas?
Ending yang jelas. I hate Cliffhanger!

fire question from Luckty @ Luckty Si Pustakawin

21. Buku beraroma buku; The Books of Lost Things atau The Thirteenth Tale?
The Books of Lost Things
22. Pilih pinjem di perpus apa beli di toko buku?
Beli dong, saya kan suka koleksi
23. Tertarik ama buku dari cover atau endorsement?
Dari cover, I do judge book by its cover
24. Baca buku hasil rekomendasi review atau embel-embel best seller?
Rekomendasi review
25. Jostein Gaarder atau Paulo Coelho?
Jostein Gaarder

fire question from Siro @ Review Siro

26. Novel romance atau science fiction? 
Science Fiction won me over all the time 

27. Langsung baca seluruh bukunya di satu waktu atau ditunda tunda?
Langsung baca seluruhnya, saya benci rasa penasaran.

28. Beli buku karena lihat covernya atau sinopsisnya?
Cover dulu baru sinopsis

29. The hunger games atau Divergent?
The Hunger Games

30. Nonton dulu filmnya atau baca dulu novelnya? ( buat film yang diadaptasi dari novel).
Buku dulu


31. Hardcover atau paperback?
Paperback

32. Battle Royale atau Hunger Games ?
Battle Royale, lebih ganas soalnya.. hehe

33. Hero atau heroine ?
Heroine ajah, kita sudah kebanyakan hero soalnya..

34. TV seri atau film/movie ?
Film

35. Tidur atau travelling ?
Tidur, hahah..

fire question from Nania @ Nania Mini Library

36. Kalau sedang naik  kendaraan  pilih baca atau dengar musik ?  
Musik. Sering pusing kalau baca di kendaraan
 
37. Pilih baca tulisan yang ada di belakang truk atau baca tulisan ‘kampanye’ di baliho   :D 
Di belakang truk, soalnya kebanyakan humor satir dan lebih kreatif sih

38. Jenis kertas untuk buku lebih suka yang berwarna kekuningan (kecoklatan) atau putih ?
Kekuningan, lebih antik rasanya 


39. Judul atau Cover ; yang lebih memprovokasi untuk membeli buku
Judul

40. Harry Potter atau Edward Cullen ?
 Harry Potter laaaah! *nggak nyante*

fire question from Linda @ Reading With Archuleta

41. Kristen Stewart. Isabella Swan atau Snow White? 
Snow White ajah, dia nggak cocok jadi Bella

42. (di kendaraan umum) baca buku atau melamun?
Melamun
43. (baca buku) di tempat tidur atau di kursi?
Tempat tidur
44. (di negeri orang) beli buku murah atau buku langka?
Beli buku murah
45. Eragon atau The Lord of the Rings?
Eragon
fire question from Natha @ Me, Myself and Books

46. Fantasi atau Thriller?
Fantasi

47. Disneyland atau Universal Studio?
Universal Studio

48. Nonton filmnya dahulu atau baca bukunya lebih dahulu (untuk buku yang dijadikan film)?

Buku dulu

49. Tongkat (sihir) atau pedang (belati, panah dsb)?
Tongkat sihir

50. Protagonis lelaki atau perempuan?
Laki-laki, hehe..

fire question from Maya @ Dear Readers

51. Tokoh fiksi cewek yang dibenci?
Hm, sampai tahap benci sih enggak ada. Paling cuma jengkel bangeeeet. Si Kitty di The Painted Veil
 
52.  Pernah baca novel erotis? Judulnya? 
Pernah, haha. Gara-gara kepo liat percakapan Ren dan AS.Dewi waktu zaman ARSAS heboh itu LOL

53. Apa makna nama blog kamu?
Hm, just like it sounds, kumpulan.. hehe

54. Situs buku yang sering dikunjungi? (misal : Bookmania, Bookriot)
Goodreads 

55. Selain BBI, komunitas buku apa yang kamu ikuti?
Nggak ada yang lain :P 


ETA: Punya Maya sempet kelewatan, hehe. Siapa lagi yg nge-tag saya tapi lupa belum saya masukin? Langsung bilang ajah yaaa~ :D:D

Fiiiuuuuh~ 50 question, lhoo.. *elap keringet* maaf ya kalau jawabnya pendek-pendek, hehe. Yang penting utang saya lunas!! Horreee..

Nah, seharusnya saya nge-tag 5 blogger lainnya untuk meneruskan fire question berantai ini. Tapi karena nggak tega, saya bebaskan aja bagi siapapun yang tertarik untuk mencoba, silakan tempel dirimu sendiri Rapid Fire Question ini ya.

Caranya, silakan jawab 10 default question dari mba Winda, lalu tambah 5 pertanyaan dari saya. Bagi yang pengen jawab ke 50 pertanyaan di atas juga nggak apa-apa kalau kuat, huehe. Ini pertanyaan dari saya:

1. Suka sambil ngemil atau diam aja saat baca buku?
2. Pakai bookmark atau lipat ujung kertas?
3. Baca sambil tiduran atau duduk?
4. Baca di rumah atau di kafe?
5. Bukunya di koleksi atau langsung jual lagi?

Senin, 29 April 2013

Pecinan: Suara Hati Sang Wanita Tionghoa

Judul: Pecinan: Suara Hati Sang Wanita Tionghoa
Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim
Penyunting: Elis W. dan A. Elwiq Pr
Penerbit: DivaPress
Tahun: Juli 2011
Hal: 246
ISBN: 9786029787153
Harga: IDR 35000, hadiah dari Dion @ Baca Biar Beken
Rated: 3.5/5
Sinopsis :
Pecinan:   
"Saat aku lahir, Papa memberikanku nama Tan Ling-Ling. Setelah dewasa, namaku menjadi Lely Kurniawati. Aku memang orang Indonesia keturunan Tionghoa." ,

***

Lely Kurniawati, gadis kecil yang selalu berada di antara toples-toples kue jualan orang tuanya merasa tidak memiliki siapa pun. Sampai kemudian, pada suatu hari, saat usianya beranjak dewasa, ia bertemu dengan Gunaldi, lelaki yang kemudian menjadi suaminya. Lelaki itu, bagi Lely, bukan hanya seorang suami. Tapi, lebih dari itu, sebab darinyalah dia merasa "ada" dan memiliki "sesuatu".

Sayang, kebahagiaan Lely tiba-tiba terhenti oleh sebuah kenyataan bahwa ternyata Gunaldi tidak cukup dengan satu cinta! Lantas, apa yang terjadi kemudian?

Dalam waktu yang bersamaan, Anggraeni, teman masa kecil Lely bertemu kembali. Ia pun mencoba berusaha membantunya dengan mencari kebenaran tersebut. Sayang, Anggraeni justru malah menemukan keraguan, baik terhadap apa yang dilakoni Lely maupun dirinya sendiri. Bahwa, kendati keduanya sama-sama datang dari keluarga etnis Cina, ternyata mereka memiliki perbedaan dalam memandang sisi kesetiaan dalam sebuah institusi perkawinan. Lalu...? Selanjutnya...?

Sungguh, sebuah novel yang sangat menarik. Membongkar sisi terdalam batin perempuan Tionghoa di Indonesia. Menyentuh, penuh kejutan, dan layak baca!

Anggraeni berasal dari keluarga peranakan Cina-Indonesia yang dibesarkan sebagai orang Indonesia. Tidak seperti teman masa kecilnya, si Lely yang keturunan Cina Totok dan dibesarkan dengan menganut tradisi-tradisi cina daratan. Pertemuan mereka kembali di Jakarta tahun 2002 yang tidak terduga akhirnya membawa Anggraeni menguak siapa sebenarnya Lely itu.

Lely meminta tolong kepada Anggraeni untuk menuliskan biography tentang dirinya. Mulailah Anggraeni dibawa menelusuri masa lalu, tahun-tahun 1960an Malang tempo dulu, Paris Van Javanya Indonesia. Masa-masa Kota Malang masih sejuk, nyaman dengan tatanan kota yang indah hasil desain arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten.

Kisah hidup Lely rupanya tidak sesempurna yang Anggraeni bayangkan selama ini. Gadis kecil yang dulu berada di balik toples-toples ini rupanya mengalami diskriminasi gender sejak kecil. Ketika saudara-saudara lelaki Lely dijemput pulang sekolah naik becak, Lely harus pulang jalan kaki sendirian.

Ketika Anggraeni kecil bermain, lely harus membantu membuat kue-kue sejak pagi, berdagang seharian dan membungkus kue-kue lagi hingga larut. Ketika Anggraeni sibuk dengen hobi menulisnya, Lely terpaksa diam-diam les menjahit agar tidak diusir ayahnya. Rupanya budaya patriarki yang kental juga terjadi di keluarga Tionghoa pada tahun 1960an.

Tak hanya membahas mengenai diskriminasi gender, Ratna Indraswari Ibrahim juga mengangkat tema sejarah dan politik sebagai setting ketika mereka tumbuh besar sebagai orang Cina-Indonesia. Ketika Lely kelas 3 SMP, sekolahnya terpaksa ditutup semenjak peristiwa Gerakan 30 September. Akibatnya Lely harus putus sekolah.

"...Sekolah Tionghoa ditutup dan diambil alih. Aku tidak mengerti kenapa sekolah kami dituduh sebagai antek-antek Partai Komunis Indonesia. Seingatku, guru-guru tidak pernah mengajarkan tentang teori komunisme. Aku ingat guru sejarahku, Pak Han, menangis. Dia bilang pada kami, yang kuingat sampai kini, 'Aku kira kalian harus belajar dimana pun, dan aku bersumpah tidak pernah mengajarkan komunisme pada kalian. Apalagi, aku tidak merasa sebagai orang Cina, melainkan orang Indonesia.'" - Lely, p.44

Sementara Lely putus sekolah, Anggraeni yang bersekolah di SMP Negeri 3 Malang masih bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena ia berwarga negara Indonesia. Sedangkan Lely hanya bisa menangis karena tidak bisa terus sekolah. Sayang sekali sebagai keturunan Cina Totok, statusnya adalah sebagai warga negara asing.

Akibatnya Lely harus membantu orang tuanya berjualan di toko. Sementara itu Anggraeni, didesak ayahnya untuk merantau ke Jakarta karena ketidakstabilan politik.di Indonesia. Status mereka yang selalu tidak jelas akibat ketidakstabilan politik tergambar jelas di sepanjang perjalanan hidup mereka.

Selain peristiwa Gerakan 30 September, keturunan Cina juga merasa sangat tidak aman ketika peristiwa 1998 terjadi di Jakarta. Mungkin keputusan adik-adik Anggraeni untuk migrasi ke Australia sudah tepat. Ayahnya ingin jika terjadi hal genting terjadi dan status mereka sebagai orang Cina membahayakan, Anggraeni harus segera pindah ke luar negeri.


"Sejak peristiwa Gerakan 30 September, sekalipun kita warga negara Indonesia, kita tidak punya kepastian bisa tinggal terus di negeri ini. Makanya kamu dan adik-adikmu harus merantau ke Jakarta.Hanya kota itu yang paling gampang aksesnya untuk pergi ke negeri lain." p.23

Anggraeni, menskipun keturunan Cina tapi dari garis ayahnya masih ada keturunan Jawa, maka dari itu, wajahnya pun lebih Jawa daripada adik-adiknya yang sekarang merantau ke Australia.
"Kamu ingat sewaktu masih kanak-kanak dulu, kau digoda oleh saudara-saudaraku, 'Kamu anak Jawa atau Cina?' Dan dengan jengkel kamu membalas, 'Apakah kalian tidak tahu aku ini anak Indonesia? Aku hapal Pancasila!'" - Rahman, p.108

Sebagai anak dokter gigi, Anggraeni tidak dibesarkan untuk berdagang. Ketika besar ia disuruh belajar keras. Iapun menikah dengan orang Jawa dan menjadi dosen. Lain halnya dengan Lely. Setelah putus sekolah, di usia 17 tahun sudah menikah dengan Gunaldi dan membangun kehidupan dari nol dengan berdagang.

Sekarang Lely sudah kaya, berbeda dengan Anggraeni yang hanya seorang PNS. Namun kenapa Lely tidak tampak bahagia?


Tak beda dengan perempuan lainnya yang secara kultur masih berada di bawah laki-laki. Lely tumbuh besar untuk dinomorduakan oleh ayahnya, kemudian ketika sudah menikah ia pun sangat berbakti kepada suaminya.

Menurut saya Lely tak berbeda dengan perempuan Jawa lainnya. Sebagai perempuan ia sangat menjunjung tinggi harkat martabat suami, bahkan ketika ia direndahkan oleh keluarga suaminya sendiri, ia terima saja karena rasa hormatnya terhadap suami. Lely, dengan bakatnya berdagang bisa berdiri dan kaya atas usahanya sendiri, namun disis lain ia masih seorang istri, dan seorang perempuan yang hidupnya diabdikan untuk suami.

Berbeda dengan Anggraeni yang seorang aktivis perempuan, seorang feminis. Semakin ia menguak Lely, semakin ia paham tentang masalah Lely. Betapa berbeda cara pandang mereka berdua. Meskipun Anggraeni telah mapan tapi ia tetap mengejar pendidikan hingga jenjang S3, karena ia ingin menunjukkan pada anak-anaknya, bahwa perempuan seusianya ini masih memiliki impian untuk meraih tingkat pendidikan setinggi mungkin.

Konstruksi sosial mengenai bagaimana seorang perempuan harus bersikap tidak lepas dari budaya dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga saat ia dibesarkan. Namun satu yang membedakan keduanya, yaitu akses terhadap pendidikan. Anggraeni yang dapat mengenyam pendidikan lebih lama tentu daripada Lely tentunya lebih berpandangan terbuka dan maka dari itu sanggup mendukung prinsip-prinsip feminisme. Berbeda jika dibandingkan dengan Lely yang sejak kecil diajarkan nilai-nilai untuk selalu menjungjung suami dalam rumah tangga.

Uniknya disini, kedua tokoh kita, Lely dan Anggraeni sama-sama perempuan keturunan Cina yang tinggal di Jawa. Meskipun disatu sisi mereka masih menganut adat Cina tapi sudah terasimilasi dengan budaya Jawa. Meskipun begitu, posisi perempuan, baik di Jawa maupun Cina rupanya tidak jauh beda. Sama-sama diatur oleh budaya patriakal.

Pada akhirnya, buku ini menyimpulkan bahwa apapun nilai-nilai yang di pegang perempuan, kita harus menghargai pilihan mereka. Selama mereka tidak merasa direndahkan dan tidak dianiaya, I think it's fine either way.. as long as you're happy.



PS: Buku ini untuk posting bareng BBI bulan April dengan tema Perempuan

Sabtu, 27 April 2013

Are you the winners of BBI Giveaway Hop 2013?



Hola,

Maaf terlambat untuk mengumumkan siapa pemenang dari BBI Giveaway Hop di blog Kumpulan Sinopsis Buku 2013 hari ini. Tadinya sih saya mau posting pagi banget tapi karena telat bangun saya jadi keburu-buru ngejar kereta dan akhirnya lupa sama sekali. *I know, I'm a reckless blogger*

Anyway, saya sudah melihat data para peserta dan ada beberapa yang rupanya masih belum valid. Entah kelewatan atau kalian bohong pada saya, hiks. Jadi ada beberapa peserta yang terpilih sebagai pemenang via random.org tapi pas saya cross chek ulang ternyata ada yang belum kalian penuhi. Maaf ya, peserta yang datanya nggak valid akan dianggap gugur.

So, langsung aja. Siapakah para pemenang yang beruntung kali ini?

Jeeeeeng jeeeeeng

Congratulation 

Nurmawati Djuhawan
you win an Apartemen 666

Arline Safitri
you win an Apartemen 666

Indah Stewart
you win a Satu Masa di Cielo

Citra Apsara 
you win a Sea of Trolls

(Pemenang harap segera konfirmasi dalam waktu 2x24 jam jika tidak akan dipilih pemenang baru.)



Terima kasih kepada semua teman-teman yang sudah berpartisipasi meramaikan BBI Giveaway Hop di blog saya tahun ini. Juga tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada Sybill Affiat serta Nugraha Sugiarta yang mau menjadi sponsor untuk event kali ini XD

Bagi yang belum beruntung jangan kecewa soalnya saya akan mengadakan Monthly Giveaway tiap tanggal 10 setiap bulannya. So, subscribe and stay tuned biar nggak ketinggalan infonya.

Semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali dalam acara BBI Giveaway Hop 2014, until then.. see you!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...