Judul: Where Dreams Begin Penulis: Lisa Kleypas Penerbit: Gramedia Hlm: 468 Tahun: Oktober 2012 Rating: 4/5 Format: paperback Sinopsis:
Where Dreams Begin:
Zachary Bronson telah berhasil mendapatkan kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa, namun seisi London tahu dia berasal dari kalangan rendah, bukan pria terhormat. Zahchary memerlukan istri untuk menaikkan derajatnya di masyarakat - dan menemaninya di hidupnya. Dan sebuah ciuman menarik serta tak terduga dari Lady Holly Taylor membangunkan kebutuhan kuat dalam dirinya.
Holly adalah wanita terhormat yang sangat mematuhi tata krama masyarakat, sangat berbeda dengan Zachary. Namun Zachary memberikan tawaran menarik baginya, yang bisa menolong masa depan putrinya. Sayangnya, tawaran itu membuat status Holly dalam masyarakat terancam. Haruskah ia mengabaikan masa tawaran yang berawal dari ciuman terlarang... atau mempertaruhkan segalanya untuk mengikuti hatinya ke tempat yang menjadi awal mula mimpi?
Real pleasant read. Karakter Zachary si Hades ini bikin melting abis, tipe bad boy dan dari keturunan biasa yang sukses merangkak mencapai puncak kekayaan di Inggris. Karena tipe OKB (Orang Kaya Baru) dan dasarnya arogan serta ambisius jadi ya nggak heran deh dia suka lebay dan pamer.. tapi kerennya Lisa Kleypas bisa menggambarkan karakter berlatar belakang melarat dan jadi kaya raya.
Di lain pihak, karakter Holly layaknya malaikat. Nyaris perfect buat ngimbangin si Hades ini. I know Holly is too good to be true but Lisa Kleypas dengan suksesnya bikin si Holly jadi nyata dan bisa diterima. Yang paling nggak masuk akal itu justru si George yang super perfect that I couldn't believe such a man exist. Apaan tuh cowok kayak begitu kok bisa-bisanya ada.. tapi ya pada akhirnya emang telihat sih kalo si George nggak perfectperfect amat juga.. anyway it's just my cup of tea. Lisa Kleypas tak pernah mengecewakan.
Judul: Secret Fire Penulis: Johanna Lindsey Penerbit: Avon Books Hlm: 416 Tahun: Februari 2012 Rating: 3/5 Format: ebook Sinopsis:
Secret Fire:
He's caught only a glimpse of her from the window of his carriage, but the young Russian prince knew he had to have her. Within minutes, Lady Katherine St. John was dragged from the London street like a common waif and carries off to a sumptuous town house...
Mulai penasaran sama Secret Fire karena katanya ini dijiplak buat SWTD-nya Santhy. Dan, yap beberapa adegan kayak di copy/paste gitu sama si Shanty tapi selebihnya sih jauh bedanya.. by mean 'jauh' is that SF is much much and sooo much better than SWTD *yaiyalaaaah*
Lumayanlah ini ceritanya, Johanna Lindsey sudah tidak diragukan lagi pinter ngaduk emosi, tapi saya capek bacanya karena Kate dan Dimitri ini on-off terus, which is seleranya Johanna Lindsey hampir semua karakternya di bikin susah ketemu.
Meskipun begitu saya kurang respek sama adegan drugging Kate. I think it's too much for my taste. Dan mengingat betapa kuat prinsip Kate saya pun nggak setuju dengan adegan yang jelas-jelas melanggar HAM ini. It was creepy!! Walaupun akhirnya cerita jadi diperhalus dengan perkembangan karakter si Dimitri nggak sebrengsek itu, at least he still regret doing that to Kate. But still.. I hate that part.
Judul: The Bride Hunt - Perburuan Cinta (Matchmaker Duncan Sister #2) Penulis: Jane Feather Penerbit: Dastan Books Hlm: 436 Tahun: Februari 2012 Rating: 3/5 Format: Paperback Sinopsis:
Pesona Sang Politisi:
Prudence Duncan merupakan anak tengah dari kakak beradik Duncan. Kecantikan dan pesonanya tersembunyi di balik kacamata dan sikap praktisnya. Prue yang pintar dan berotak tajam terlalu disibukkan oleh suratkabar The Mayfair Lady yang dikelolanya sehingga tidak pernah memusingkan masalah pernikahan. Namun, suratkabar mereka dituntut atas pencemaran nama baik, dan Prue harus memutar otak untuk mencari pengacara andal yang bisa menangani kasus itu.
Sir Gideon Malvern merupakan seorang pengacara yang sudah dikenal dengan kehebatannya dalam memenangkan berbagai kasus yang sulit dan rumit. Pada pertemuan pertama, Gideon menganggap remeh Prudence karena The Mayfair Lady hanya menampilkan gosip-gosip yang tidak bermutu. Gideon yakin kalau Prudence tidak memiliki kesempatan untuk menang dalam kasus ini. Namun, kegigihan dan kecerdasan serta kekeraskepalaan Prudence menarik minat Gideon dan ia setuju untuk menangani kasus ini. Sebagai bayarannya, Prudence akan mencarikan calon istri yang sesuai untuk sang pengacara. Gideon yang sinis dan arogan menerima tawaran itu secara main-main. Namun, ia tidak menduga kalau interaksinya dengan Prudence semakin membuatnya tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu. Di lain pihak, Prudence yang sudah membenci Gideon sejak pertemuan pertama karena sikap laki-laki itu yang sombong dan suka memerintah, diam-diam semakin menikmati waktu yang mereka habiskan bersama.
Sanggupkah Gideon memenangkan kasus yang mengancam keberlangsungan The Mayfair Lady? Dan mampukah Prudence menemukan istri yang sesuai untuk Gideon meskipun ia sendiri mulai merasakan ketertarikan terhadap pria itu?
Dibanding Constance (#1 The Bachelor List) yang temperamennya meledak-ledak, Prudence ini temperamennya sama aja saih, tapi temperamen emosionalnya lebih tepat disebut lebih keras ajah gitu.
Sedangkan karakter male lead-nya Sir Giedon Malvern adalah seorang pengacara ternama, duda, 40thnan dan tipe lelaki arogan yang suka mendominasi.
Settingnya masih di tahun yang sama 1900an, nggak jelas sih tahun berapa. Mungkin 1907. Kali ini gadget terbarunya adalah telepon yang katanya supermahal dan masih baru banget. Omnibus dan kereta untuk kendaraan umum. Mobil bagi orang yang kaya luar biasa. Telegram sih uda lama ada yaa.. Hm, apalagi? Yah kira-kira masih ituh perkembangan terbarunya.
Seperti biasa, banyak percakapan cerdas dan penuh perdebatan di sepanjang buku ini. Chemistrynya juga oke, walo ga se-oke Constance dan Max. Mungkin karena karakter Prudence yang keras dan praktis juga sih ya. Yang jelas, plotnya jauh lebih seru dibandingkan buku pertamanya. Soalnya banyak teknis adegan persidangan dan gugatan hukum yang lumayan seru dan nggak bikin buku ini terlihat klise.
Judul: The Bachelor List - Pesona Sang Politisi (Matchmaker Duncan Sister #1) Penulis: Jane Feather Penerbit: Dastan Books Hlm: 408 Tahun: November 2011 Rating: 3/5 Format: Paperback Sinopsis:
Pesona Sang Politisi:
Constance Duncan, putri sulung dari tiga bersaudara, memiliki banyak hal penting dalam pikirannya daripada sekadar berusaha mendapatkan seorang suami. Walaupun belum menikah, Con sangat sibuk karena ia berusaha untuk membayar utang ayahnya, bekerja memperjuangkan hak-hak wanita, dan menerbitkan surat kabar bersama adik-adiknya. Tidak ada apa pun atau seorang pun yang bisa mengalihkan perhatiannya. Sampai ia bertemu dengan Max.
Max Ensor adalah seorang politisi yang memiliki pandangan yang berbeda dengan Constance. Max adalah segalanya yang dibenci oleh Con. Tugas Max adalah meredam gerakan yang mendukung hak pilih wanita. Pandangan Max yang ketinggalan zaman itu membuat Con benar-benar kehilangan kesabaran dan hanya satu hal yang bisa dilakukannya: mengubah Max! Con tidak mengetahui kalau Max ternyata memiliki rencana yang sama. Tapi tak disangka, adu mulut yang selalu mewarnai pertemuan mereka perlahan-lahan berubah menjadi gairah yang tak terbendung. Max tidak pernah menduga kalau ia akan tertarik pada Con yang memiliki sikap dan pandangan yang radikal, sementara Con yang mendukung emansipasi wanita mulai menyadari kalau pandangan kolot Max malah membuatnya semakin terpikat kepada pria itu.
Perbedaan opini di antara mereka menjadi dinding penghalang yang sulit diruntuhkan. Mereka pun berniat untuk saling mempengaruhi. Sanggupkah Constance mengubah pendirian Max yang kolot? Mampukah cinta menepiskan perbedaan yang begitu besar di antara mereka? Dan akankah akhirnya perbedaan itu bisa menyatukan mereka?
Awalnya saya pikir buku ini jenis Historical Romance tipikal, tapi kok tumben nggak mengangkat kisah bangsawan. Lihat aja Tokohnya: Max Ensor, seorang politisi. Constance Duncan, seorang feminis yang menerbitkan surat kabar untuk memperjuangkan hak-hak wanita.
Tapi rupanya mereka memang bangsawan kok. Cuma bukan bangsawan kelas atas dengan gelar mentereng macam Duke, Marquiss, Viscount, dst.
Tokohnya lebih ke bangsawan biasa dan keluarga terhormat soalnya jarang disebut embel-embel lord/lady dan gelar lainnya. Si Ensor gelarnya Right Honorable Max Ensor, itu gelar yang dia dapat karena posisinya sebagai politikus. Sedangkan Constance sendiri Cuma dipanggil Miss Duncan.
Ada beberapa perbedaan dengan hisrom biasanya. Beberapa di antaranya: -Latar waktu yang lebih modern. -Sudah ada tokoh dan/ kelompok feminis yang memperjuangkan hak-hak wanita -Kemunculan mobil yang hampir menggusur keberadaan kereta kuda, -Adanya operasi jalur kereta, -Serta para perempuannya boleh berkencan berduaan di kafe/restoran tanpa pendamping resmi. Garis besarnya, para wanitanya punya gaya hidup (Sedikit) lebih bebas.
Seperti biasa, tokoh utama perempuannya gadis yang cerdas dan punya pandangan bahwa wanita tidak boleh selamanya mau di dominasi para pria.
Makanya, buku ini berisi argumen-argumen cerdas antara seorang feminis dan bisa dibilang, politisi yang masih menjunjung tinggi budaya patriakhal. Nggak ada yang salah dengan karakter tokoh-tokohnya. Menurut aku sih karakternya sama-sama kuat dan chemistrynya dapet banget. Sayang pas menjelang akhir cerita ketika dua tokoh ini akan bersatu tiba-tiba eksekusinya di fast foward gitu rasanya eaa . Kurang perlahan jadinya kurang greget lah..
Secara keseluruhan bagus ceritanya. Tapi, apa saya pengen baca lanjutannya? Ya pengen sih, tapi nggak ngebet banget juga.
Judul: Brown-Eyed Girl (The Travises Family #4) Penulis: Lisa Kleypas Penerbit: Piatkus Hlm: 291 Tahun: August 11th, 2015 Rating: 3/5 Format: ebook Sinopsis:
Brown-Eyed Girl:
Wedding planner Avery Crosslin may be a rising star in Houston society, but she doesn't believe in love--at least not for herself. When she meets wealthy bachelor Joe Travis and mistakes him for a wedding photographer, she has no intention of letting him sweep her off her feet. But Joe is a man who goes after what he wants, and Avery can't resist the temptation of a sexy southern charmer and a hot summer evening.
After a one night stand, however, Avery is determined to keep it from happening again. A man like Joe can only mean trouble for a woman like her, and she can't afford distractions. She's been hired to plan the wedding of the year--a make-or-break event.
But complications start piling up fast, putting the wedding in jeopardy, especially when shocking secrets of the bride come to light. And as Joe makes it clear that he's not going to give up easily, Avery is forced to confront the insecurities and beliefs that stem from a past she would do anything to forget.
The situation reaches a breaking point, and Avery faces the toughest choice of her life. Only by putting her career on the line and risking everything--including her well-guarded heart--will she find out what matters most.
Joe Travis sudah berulang kali disebutkan dan juga pernah muncul jadi cameo di tiga buku seri The Travis Family. Entah kenapa walau hanya muncul sesekali, dia menjadi tokoh yang paling menarik dan paling saya tunggu kisahnya. Makanya, saya merasa sangat excited ketika membaca buku ini. Namun, somehow saya paling kecewa dengan cerita Joe Travis.
Dibandingkan buku-buku sebelumnya, Brown-Eyed Girl ini kisahnya paling ringan. Hampir nggak ada konflik berarti dan juga nggak ada kisah masa lalu yang menyedihkan atau mengerikan. Namun saya juga nggak terlalu suka dengan romance-nya karena karakter Avery ini membuat saya frustasi. Saya nggak bisa suka sama Avery, dia terlalu suka menyimpulkan sendiri dan cepat menilai orang buruk. Dia punya pandangan tidak positif terhadap orang kaya karena pernah direndahkan oleh orang kaya yang snob, jadi dia pun menganggap Joe dan keluarganya bakalan snob juga. Dan anggapan itu membuat dia selalu menolak Joe. I think she is afraid of commitment and of course she has this prejudice againts rich people.
Joe sendiri tertarik pada Avery semenjak pandangan pertama dan dia nggak menyerah untuk mendapatkan Avery. Sayangnya, PoV Joe disini hampir tidak ada. Lisa Kleypas memakai PoV Avery saja. Sehingga sulit buat saya menerima alasan Joe ngejar-ngejar Avery hanya karena 'tertarik dan penasaran'. Walau Lisa Kleypas dengan jelas menunjukkan betapa besar Joe tertarik pada Avery melalui dialognya, menurut saya alasan Joe tertarik kepada Avery itu sangat dangkal. Hanya karena tertarik pada pandangan pertama, bukan love at the first sight sih menurut saya, karena Joe belum cinta, at least nggak ada pernyataan dari Joe yang bilang dia cinta Avery. Or maybe it was, but how am I suppossed to know, PoV Joe is non existent. Kalau saya jadi Joe, udah lama saya nyerah ngejar Avery.
Well, meski plotnya membuat saya lelah, namun seperti biasa Lisa Kleypas sangat pandai menulis, it's a very well written, of course. Hanya saja saya kurang suka dengan karakter Avery jadi saya kasih bintang 3/5 dulu yah.