Sabtu, 23 Juli 2011

All Those Things We Never Said

Judul: All Those Things We Never Said
Penulis: Marc Levy
Penerbit: Bentang
Tahun: 2009
Hal: 360
ISBN: 978-979-1227-73-5





Review:


Hubungan Julia dengan ayahnya sangat buruk.  Mereka nyaris tidak bertemu apalagi berbicara selama 6 bulan lamanya.  Dan yang lebih buruk lagi adalah pemakaman ayahnya dilangsungkan di hari yang sama dengan hari pernikahannya. Bahkan ayahnya masih terus merusak rencananya setelah meninggal. Menurut Julia, itu hanya satu dari seribu cara ayahnya untuk menggagalkan hari pernikahannya. Jadi, ia kaget sekali mendapati manusia android yang sama persis seperti ayahnya dikirimkan ke apartemennya tepat sehari setelah pemakaman ayahnya.

Kemunculan mesin android itu mengubah kehidupan Julia selama seminggu ke depan karena andorid ayahnya mengajaknya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya— memperbaiki waktu mereka yang hilang, hubungan mereka yang rusak —meminta Julia memberi kesempatan kedua.

Seperti sudah di rencanakan dengan rapi, Julia terseret skenario— entah apa —yang telah disusun oleh android ayahnya. Apapun skenario yang telah direncanakan takdir, Julia harus mencari pria yang menjadi cinta sejatinya, membawanya kembali ke reruntuhan tembok berlin, dan menghadapi konsekuensi dari kesalahan masa lalu.

Saya selalu menyukai kisah bertema sci-fi, jadi begitu saya menemukan kata keramat  "manusia android yang sama persis seperti ayahnya." pada sinopsis di sampul belakang novel ini tanpa pikir panjang langsung saya beli. Terbayang dalam benak bahwa kisah ini nantinya akan penuh dengan segala macam teknologi mutakhir, intrik perusahaan, konspirasi agen, dan propaganda kepentingan politik —yang ternyata malah tidak ada sama sekali. *antiklimaks*

Ternyata sebenarnya tema family-drama sudah jelas ditonjolkan dalam sinopsisnya, hanya saja saya yang terlalu dibutakan hasrat “belanja” tidak terlalu ambil pusing. Saya pikir apa bedanya? Toh, hampir semua kisah selalu dibumbui drama dan cinta. Hasilnya, saya banjir air mata alih-alih mendapati petualangan yang memacu adrenalin. Meskipun pada akhirnya kisah ini berakhir sesuai dengan keinginan happy-ending-goers tetap saja twisted ending ini merupakan kejutan manis untuk saya.

Kepiawaian Marc Levy dalam bertutur kata sekalipun ide ceritanya klise mampu menghasilkan kisah mengharukan yang sarat makna. Banyak dari kita percaya bahwa selalu ada kesempatan kedua. Tapi satu pelajaran diberikan Marc Levy dalam novel All Those Things We Never Said ini adalah apakah kita mampu memberikan kesempatan kedua untuk orang lain?

Hal tersebut mengajarkan saya bahwa hubungan manusia itu sejatinya sangat rapuh jika jalinannya tidak terjaga. Salah satu penyambung yang dapat merekatkan jalinan itu hanyalah keterbukaan dan penerimaan  Bahwa dengan bersikap terbuka barulah dapat terjalin komunikasi.

Dan setelah terjadi komunikasi, apakah saya sanggup menerima kenyataan dan penjelasan tanpa asumsi dan ekspektasi? Ayah Julia hanya menginginkan satu hal, kesempatan kedua dari putrinya. Dan kemudian, ia menunjukkan bahwa kesempatan kedua yang telah diberikan Julia mampu membuka kesempatan lainnya yang membawa Julia untuk berdamai dengan dirinya sendiri serta masa lalunya.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah jika saya dihadapkan situasi dimana saya diminta untuk memberi kesempatan kedua, bisakah saya menyingkirkan rasa ego dan sakit hati? Sanggupkah anda?


Rabu, 13 Juli 2011

Replay


Judul: Replay
Penulis: Ken Grimwood
Penerbit: UFUK Press
Tahun: 2010
Hal: 532
ISBN: 978-602-8801-31-7




Review:

Selalu menarik untuk menyimak kisah time-travel dalam bentuk apapun. Dalam novel Replay ini mengusung tema unik dimana tokohnya dikhianati sang waktu untuk mati berkali-kali di waktu (tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik) yang sama. Selama siklus kehidupan yang berulang itu Jeff berkali-kali menjalani kehilangan, pengasingan, dan bahkan penyembuhan. Tapi yang terparah dari semua apa itu adalah kehilangan akan orang-orang yang dicintai.

Hingga separuh buku novel ini mengisahkan betapa membingungkan dan frustasinya Jeff karena permainan waktu dimana ia kembali hidup dan mati berkali-kali, ia gunakan kesempatan itu untuk bertaruh pada pertandingan olah raga besar yang hasilnya digunakan sebagai modal investasi supaya dirinya bisa mandiri secara finansial, mendengarkan berita politik yang sama dan mengetahui hampir seluruh kejadian besar meliputi perang, kecelakaan, dll di seluruh dunia dalam kurun waktu 25 tahun siklus hidupnya.

Di tengah pengasingannya, akhirnya ia menangkap satu kejanggalan. Sesuatu yang seharusnya tidak ada selama 3 kali kehidupannya. Dan disitulah ia bertemu sesama Replayer, Repeater, atau apapun sebutannya. Mulai dari situ kisah berkembang menarik. Mulai dari pertemuannya dengan sesama Replayer lain yang membuatnya jatuh cinta, usahanya mencari sesama Replayer-Replayer lainnya, berkurangnya waktu siklus hidup mereka hingga keterlibatan Jeff dalam politik yang mengubah sejarah dan kejadian-kejadian yang tidak seharusnya terjadi.

Sungguh kisah fantasy yang mengesankan meskipun di beberapa bab terakhir banyak typo yang saya temukan. Sebenarnya ide time-travel sudah klise, tapi kemasan dan olahan Ken Grimwood yang terbit tahun 1986 ini belum pernah ada sebelumnya (ya kan? Atau udah pernah?) ruang lingkup yang dipakai juga terbatas pada tahun 1963-1988 saja membuat plotnya tertata apik. Bahkan menyerempet sedikit dengan keterlibatan alien yang sampai akhir tidak dijelaskan lebih lanjut dan bikin saya tambah penasaran. Tapi pendeskripsian rasa sedih, frustasi, pemahaman yang tercapai selama masa siklus Replaynya dan ironi jatuh cinta berkali-kali hingga masa-masa pengasingan Jeff yang digambarkan Grimwood sangat manusiawi tapi kurang menyentuh. Bagi pecinta drama, jangan berharap Anda bisa nangis berember-ember ketika membaca novel ini karena tidak ada drama berlebihan yang ditulis.

Dan yang paling menyenangkan adalah twisted ending yang sama sekali tidak tertebak. Bisa dibilang setelah antiklimaks, masih ada klimaks kecil dan berujung pada antiklimaks kedua di bagian epilog. Lovely!


Hellow, readers!

credit icanread

Apa kabar, readers?

Wow, sudah setahun lebih sebulan saya sama sekali nggak mengupdate blog ini ya. Maaf, karena berbagai hal dan rasanya pembelaan apapun percuma kalau dikemukakan karena nantinya akan tetap akan terdengar seperti alasan yang dibuat-buat. Haha.

Saya cukup heran karena masih banyak follower yang bertahan membaca blog ini. Sebenarnya follower saya sebagaian sudah lupa bahwa mereka pernah follow blog ini atau mereka dengan setia follow saya dan harap-harap cemas menanti tulisan baru? Entah. Yang pasti saya senang dan sangat berterima kasih atas follownya, apapun motif Anda. XD

Jadi, pada akhirnya ketika saya mendapat liburan panjang, terbesit kembali keinginan me-review beberapa novel yang menarik hati. Dan well, mungkin gaya review saya akan sedikit berbeda dengan gaya penulisan setahun lalu.

Akankah lebih baik atau malah memburuk? Silakan Anda yang menilai.


Nice, if you were still here,

XOXO

Rabu, 02 Juni 2010

Fate

Judul: FATE
Penulis: ORIZUKA
Penerbit: Authorized Books
Tahun: 2010
Hal.: 293
No. ISBN: 978-602-96894-0-2


Sinopsis (Spoilers!):

Jang Min Ho seorang jurnalistik dari penerbitan di kota New York harus pulang ke Indonesia setelah mendapat kabar bahwa ayahnya yang seorang pengusaha sukses di Indonesia itu meninggal akibat kanker paru-paru. Di distrik Dongdaemun, Seoul, Jang Min Hwan juga mendapat telepon yang sama. Mereka, kakak beradik diharapkan datang ke Indonesia untuk menghadiri pemakaman serta pembacaan surat wasiat Jang Dae Gwan, sang ayah.

Jang Min Ho anak sah dari istri sah yang mewarisi semua sifat baik ayahnya mulai dari cara berpikir, kepandaian, kebijaksanaan dan sebagainya. Tetapi Jang Min Hwan? Selain DNA, ia tak punya kesamaan apapun dengan ayah dan kakaknya. "Gampang saja hyeong bilang begitu. Hyeong mewarisi sifat-sifat abeoji, sedangkan aku? Aku nyaris dianggap supirmu kalau namaku tidak bermarga Jang." begitu Min Hwan pernah berkata.

Min Ho hidup berkecukupan di rumahnya yang besar sebagai anak sah di Indonesia. Min Hwan tinggal di rumah kecil bersama ibunya yang berprofesi sebagai pelacur dan susah payah membuka toko dengan kedua sahabatnya di Dongdaemun, Seoul. Status sosial mereka berbeda, tapi mereka diberi hak yang sama untuk mendapat warisan ayahnya. Ya, untuk terakhir kalinya, ayahnya berusaha menyatukan mereka berdua kembali dalam surat wasiatnya. Dengan iming-iming harta warisan, mereka diharapkan tinggal bersama sebagai syaratnya. Dan tugas Dena, anak gadis pelayan yang juga teman masa kecil mereka, untuk membuat mereka kembali bersatu.

Namun Min Hwan yang 15 tahun lalu terusir dari rumah keluarga Jang masih menyimpan sakit hati dan sulit memaafkan keluarga Jang. Tidak mudah baginya untuk membuka diri seperti dulu saat mereka masih kecil. "Aku ini apa? Bola ping pong? Kalian mengambilku, lalu membuangku, sekarang mengambilku lagi?" keluh Min Hwan. Tapi Min Ho tahu pada detik Min Hwan memanggilnya 'hyeong' (panggilan kepada kakak laki-laki dari laki-laki yang lebih muda) hatinya tak bisa lebih bangga lagi, itu fakta bahwa ia memang menyayangi adiknya, dan bagaimanapun ia harus membuat Min Hwan percaya lagi padanya. Terlepas siapa ibu mereka atau apapun status mereka sekarang. Min Hwan adalah adiknya, keluarganya. Dan seperti kata ayah mereka, tak ada ikatan yang lebih erat daripada ikatan keluarga.

Dibantu kehadiran Dena, Min Hwan sedikit demi sedikit berusaha membuka diri. Tidak pada Min Ho, belum. Tapi setidaknya ia mau membuka diri pada Dena. Tapi di saat mereka akhirnya merasa sudah mampu melewati masa itu, ternyata nasib berkata lain. Nasib. Fate. Ketetapan Tuhan. Sesuatu yang tidak bisa diubah dengan tangan manusia.

Novel ini mengambil latar belakang budaya korea sehingga jangan kaget kalau menemukan beberapa percakapan sarat dengan istilah korea. Tapi jangan khawatir, mbak Okke sudah menyiapkan kamus mini di halaman belakang dan footer ditiap halaman. Jadi kita bisa sekaligus belajar percakapan bahasa Korea. Minimal istilah yang sering kita dengar di korean drama. ^_^



Komentar Penulis:

First of all, saya lumayan kaget melihat cover novel Fate ini berwarna pink. Sangat tak terduga, beneran deh. I have no clue what it's supposed to be karena saya jarang mampir ke blog mba Okke (Orizuka) akhir-akhir ini, jadi nggak tahu design covernya kayak apa. Atau emang nggak pernah di bocorin sama mba Okke ya? Saya lupa, pokoknya saya nggak pernah lihat. Jadi waktu nunggu paket datang saya degdegserr penasaran sama covernya. Yang jelas saya kaget. Untunglah soft pink bukannya shocking pink. Kalau enggak saya bakal shock beneran. Huehehe.

Second of all, terlepas dari warna pink covernya, saya suka sekali dengan design Fate kali ini. Sederhana, nggak banyak design ruwet atau motif. Cuma ada gambar untaian maedeup (kesenian menyimpul korea) dan ada tiga lambang shio kelinci, ular, dan kerbau tergantung di bawahnya. Saya yakin itu gambar strap handphone buatan Dena. Sekaligus merepresentasikan filosofi judul Fate (Nasib) yang menghubungkan seluruh karakter dalam novel ini.

Kemudian, saya senang melihat perbedaan novel kali ini dari novel Orizuka yang sebelumnya. Kalau melihat perbandingan tebal buku dan besar font Fate ini, jelas Fate lebih unggul dalam plot. Ukuran fontnya kecil tapi bukunya tebal, yang artinya cerita dalam novel ini bakalan panjang dan lama. Setelah saya baca ternyata hasilnya seperti yang di harapkan dari novel yang digodok selama dua tahun. Sangat memuaskan!

Plotnya tak bisa di tebak. Ketika pertama kali membaca sinopsisnya saya pikir ending tokohnya bakalan tipikal kayak tokohnya Orizuka di Summer Breeze dan The Truth About Forever (yang udah baca pasti tahu gimana ending para tokohnya), ternyata dugaan saya meleset jauuuh, dan lebih jauuuuuuh lagi ketika saya baca bab terakhir. Alurnya enak, teratur dan runut, di akhir babak ada alur maju-mundur yang ternyata bikin novel ini tambah unik dan saya kagum karena Orizuka berhasil meramu dua masa dengan halus dan nggak terasa kaku.

Kalimat-kalimatnya oke, bukan kalimat padat nan efektif lho, justru percakapannya agak panjang, tapi sangat memuaskan dan nggak bertele-tele. Para tokohnya, seperti biasa, Orizuka piawai sekali menciptakan tokoh dan membuat mereka jadi berkali-kali lipat lebih hidup daripada yang sudah hidup saking detil dan telitinya menjabarkan tiap karakter.

Untuk gaya bahasa Orizuka kali ini berubah lagi dari novel The Truth About Forever. Dalam Fate saya kembali menemukan gaya mba Okke seperti di Miss-J yang sangat saya sukai itu, gaya bahasa semi-baku yang rapi tapi keren itu lho, yg bikin saya jatuh cinta setengah mati untuk pertama kalinya pada penulis Indonesia. Namun sayangnya dalam Fate ini bahasanya lebih baku lagi dan hampir mirip novel terjemahan tapi tetep nggak terasa kaku sama sekali karena alurnya yang menghanyutkan. Bisa di mengerti karena latar belakangnya kan budaya korea dan banyak istilah korea yang ikut mampir jadi kalau mirip terjemahan ya nggak bisa disalahin juga. Semoga lain kali masalah gaya bahasa semi-bakunya di lumerin dikit biar enak dibaca kayak Miss-J ya.

Karakter yang menonjol disini ada 3 orang (Adena, Jang Min Hwan, Jang Min Ho). Tapi saking menonjolnya saya sampai bingung menentukan siapa tokoh utama disini. Mulai dari Dena yang ceroboh dan kehilangan rasa nasionalisme karena sangat korea daripada orang korea. Min Ho yang bijaksana dan memiliki kepribadian yang bikin iri seperti ayahnya dan pandai menyihir Min Hwan agar adiknya percaya bahwa segalanya mungkin. Min Hwan yang punya mulut berbisa tapi hatinya ternyata sangat sensitif, sangat lucu dan charming. Nicole yang cerewet dan baik hati membuat Dena maupun saya sendiri susah membencinya. Bahkan tokoh almarhum Jang Dae Gwan sang ayah pun terlihat hidup dan selamanya berkharisma walau hanya dikisahkan lewat percakapan para tokoh lainnya. Semuanya oke punya kayak nama penulisnya, mba Okke. Haha.

Anehnya, meskipun latar belakang budaya korea dalam novel ini sangat kental, saya sedikit pun nggak merasa dibawa nonton film korea seperti yang saya rasakan saat membaca Summer in Seoul. Entah kenapa, saya malah merasa kisah ini bukan sekedar film lagi, tapi sangaaaat nyata. Seolah olah saya ikut mengalami sendiri dan larut di dalamnya. Bukan sekedar cerita superficial. Yang mana saya yakin bagian dari charmnya mba Okke.

Selain itu untuk pertama kalinya saya merasa puas sekali ketika membaca novel. Fate ini selain plotnya yg oke, alurnya yg runut, dan karakter tokohnya yg tak terlupakan, endingnya yang tak terduga dan tak bisa ditebak, ternyata bisa bikin saya merasakan 'sesuatu' yg beda. Dan pertama kalinya saya merasa lega dan tak ada sebersit pun rasa penasaran atau bertanya-tanya setelah menutup novel. Hal yang jarang sekali, kan?

Karena biasanya setelah baca novel reaksi saya cuma dua. Yang pertama, saking bagusnya atau endingnya ngegantung, saya jadi penasaran dengan nasib tokoh ini atau bertanya-tanya seandainya endingnya begini apa bisa lebih bagus lagi. Yang kedua, kalau novelnya kacangan saya bakalan mencibir habis-habisan karena endingnya sudah ketebak atau plotnya terlalu murahan dan karakternya nggak oke. Tapi nggak terjadi tuh dengan Fate ini. Saya lega dan bener dah.. nggak nemu istilah yang tepat untuk menjelaskan kata ini, nggak ada yang bisa mendekati kata "PUAS" pokoknya.

Untuk itu saya kasih nilai 4 dari 5 bintang khusus novel Fate ini. Nicely done mba Okke. Brava, brava!!



Selasa, 29 Desember 2009

Invicible City - Kota yang Hilang (The Joshua Files #1)


Judul : The Joshua Files: Invisible City/Kota yang Hilang
Pengarang: M. G. Harris
Penerbit: GPU
Genre: Thriller/Fiksi/Teenlit

Sinopsis (Spoiler!):
Joshua Garcia sang tokoh utama hanyalah remaja berusia 13 tahun yang tiba-tiba mendapatkan kabar saat sedang berlatih Capoeira bahwa ayahnya, Andres Garcia, seorang dosen arkeolog meninggal karena kecelakaan pesawat saat sedang melakukan riset di Meksiko. Yang mengerikan lagi, polisi menyimpulkan bahwa ayahnya dibunuh oleh suami dari wanita selingkuhannya. Hal itu membuat Ibu Joshua shock dan harus masuk rumah sakit. Joshua yang cerdas tidak mau memercayainya begitu saja. Dia yakin ayahnya masih hidup. Selain itu banyak sekali bagian-bagian yg hilang dalam analisis para polisi. Maka ia harus membuktikan bahwa kesimpulan polisi Meksiko salah.

Joshua mulai membuat blog dan menceritakan hasil penyelidikannya sendiri disana. Analisis kejadian pertama dari Joshua Files: Ayahnya diculik para alien! Tentu saja hal itu terdengar kekanak-kanakan. Tapi bukti adanya penampakan UFO di sekitar daerah jatuhnya pesawat ayahnya memperkuat dugaan Joshua. Dan hanya TopShopPrincess, yang aslinya bernama Ollie, seorang pembaca blog setianya yg selalu memberikan komentar pada setiap entri blognya--percaya pada ceritanya mengenai UFO. Mereka bertemu, lalu Ollie yang ternyata berumur 16 tahun itu bersemangat sekali membantunya memecahkan misteri pembunuhan Andres Garcia. Kemudian, bersama Tyler Marks, temannya dari Capoeira mereka mulai mempelajari hieroglif Maya untuk menemukan kota yg hilang.

Dari sana mereka sepakat untuk pergi ke Meksiko bertiga untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kota yg hilang ini dan mencoba menemui Camilla--wanita yg diisukan sebagai selingkuhan ayahnya. Hanya saja Joshua belum tahu petualangan apa yang menantikan dirinya, Joshua tak tahu tentang Takdirnya.

Sanggupkah Joshua menemukan kota yang hilang dan menyingkap tabir kematian ayahnya?

Komentar Penulis:
Pertama kali saya tertarik dengan Joshua Files: Invisible City karena covernya sangat unik. Pepatah yang paling sering kita dengar, "Don't Judge Book by its Cover." itu tidak ada dalam kamus saya. Katakanlah saya dangkal, tapi saya nggak mau munafik juga. Kesan pertama yang menarik itu perlu! Termasuk sinopsis yg menarik dan endorsement di cover belakang. Kalau selanjutnya ternyata isinya berbeda jauh dengan cover, yah, emang lagi apes ajah. Tapi itu resiko. Dan saya suka ambil resiko.

Kemudian hal kedua yg saya lihat adalah nama pengarangnya. Never heard M.G. Harris before. Tapi nama pengarang terkenal juga bukan jaminan buku bagus, ya kan? Karena semua itu tergantung selera pembaca sukanya jenis cerita semacam apa.

Kalau kamu suka Film Indiana Jones, The Mummy Trilogy, dan Journey to the Center of the Earth? Kisah-kisah berbau advanture-arceology yang seru abis namun tak lupa menyisipkan kisah fiksi sejarah. Suka nggak? Kalau suka, berarti kamu juga akan menyukai Joshua Files: Invicible City ini.

Saya sangat suka dengan ide cerita dari Joshua Files: Invisible City. Sangat menarik dan unik. Mungkin tidak begitu unik bagi sebagian penggemar penikmat fiksi teori konsipirasi dan pernah membaca novel yg bobotnya lebih 'berat' seperti karangan Dan Brown dengan keempat bukunya yg menakjubkan itu (The Da Vinci Code, Angels and Demons, Deception Point, dan Digital Fortess). Well, saya akui Joshua Files: Invisible City ini masih jauh dari itu. Namun yang saya katakan unik disini adalah cerita teori konspirasi ini dikisahkan melalui sudut pandang seorang remaja dan ditujukan untuk young-adults. Joshua Files: Invicible City ini beda! Diantara kumpulan teenlit yg topik utamanya tentang kisah cinta pra-remaja, Joshua Files: Invisible City berdiri tegak dengan cover dan ide cerita unik. Sesuatu yang jarang sekali kita temukan di toko buku, kan?

Selain dari sisi konspirasinya yg melibatkan agen NRO, kelompok/sekte fanatik, dan para suku Mayan sendiri, ada satu hal yg sangat-sangat menarik hati. Fiksi Sejarah suku Maya dan isu global tentang kiamat 2012. Benarkah akan terjadi kiamat pada tanggal 22 Desember 2012? Who knows. Dan disitulah akar permasalahan dari semua kisah petualangan ini. M.G. Harris sukses memuaskan rasa penasaran saya tentang kisah bangsa Maya yg terkenal memiliki peradaban tinggi dan rasa tertarik mereka terhadap astronomi yg besar. Meskipun tidak diceritakan secara mendetail demi keegoisan sisi fiksinya, namun cukuplah sebagai pengantar bagi orang yg awam mengenai keberadaan bangsa Maya serta ramalan.

Dari semua aspek diatas saya tanpa ragu ingin memberikan 5 bintang untuk Joshua Files: Invisible City. Namun sungguh sayang, saat membaca semakin kebelakang saya semakin sesak napas dan hampir saja memaki penulisnya dalam hati karena merasa banyak sekali plot-plot yg hilang atau sengaja disembunyikan. Kata lain ceritanya nanggung. Banyak sekali yang belum selesai, seperti plot gelang Itzamma yg hilang, misteri pembunuhan ayahnya yg belum tuntas, mengapa ada NRO dan sekte fanatik yang sangat bernafsu untuk membunuhnya, dan Ixcel--gadis misterius yg kabur dari rumah. Usut punya usut, ternyata akan ada sekuel dari novel ini yang judulnya Joshua Files: Ice Shock. Can't hardly wait to read this one. Semoga pihak GPU bisa menerbitkannya lebih cepat dari perkiraan saya.

Akhir kata, saya beri total 4 bintang untuk Joshua Files: Invisible City karena novel ini bersambung. Haha.



ETA: Saat saya berkunjung ke Official Blog M.G. Harris, saya menemukan banyak cover novel Joshua Files: Invisible City yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dan diantara semua cover itu hanya cover dari Indonesia yang paling menarik.





My Review of the series:
2. The Joshua Files #2: Ice Shock
3. The Joshua Files #3: Zero Moment
4. The Joshua Files #4: Dark Parallel
5. The Joshua Files #5: Apocalypse Moon 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...